Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / PT Astra Internasional Tbk, Raih Laba Rp4,82 Triliun Di Kwartal I 2020

PT Astra Internasional Tbk, Raih Laba Rp4,82 Triliun Di Kwartal I 2020

Marketnews.id Dibandingkan dengan laba yang diperoleh pada kuartal I tahun lalu, laba yang diraih oleh PT Astra Internasional Tbk mengalami penurunan hingga 7,7 persen menjadi Rp 4,81 Triliun. Sektor bisnis alat berat, tambang batu bara menjadi penyebab utama menurunnya laba yang diperoleh Astra Internasional. Mampukah perseron mempertahankan kinerja tahun lalu di ancaman pendemi Covid-19.

PT Astra International Tbk. mencatatkan penurunan laba sebesar 7,77 persen pada kuartal I/2020 menjadi Rp4,81 triliun. Penurunan laba didorong oleh penurunan kinerja sektor alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi.

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto mengatakan, pada 3 bulan pertama tahun ini lini bisnis otomotif dan jasa keuangan Astra masih cukup solid. Namun, kinerja Grup Astra secara keseluruhan harus menurun karena penurunan kinerja sektor alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi.

“Walaupun kinerja bisnis otomotif dan jasa keuangan Grup Astra solid, kinerja keseluruhan menurun pada kuartal pertama tahun ini, terutama disebabkan turunnya harga batu bara dan melemahnya kepercayaan konsumen,” katanya melalui siaran pers, Senin (27/4/2020).

Lebih jauh Priyono menambahkan, kinerja pada awal tahun ini juga kian berat akibat adanya pandemi Covid-19 di Indonesia. Penanganan virus itu lewat sejumlah aturan pembatasan dinilai kian mempersulit kondisi perseroan dan berdampak besar terhadap kinerja perseroan pada April.

“Kondisi ini kemungkinan akan bertahan selama beberapa waktu. Meskipun demikian, Grup Astra memiliki posisi keuangan yang kuat, yang memungkinkan untuk memitigasi risiko yang dihadapi dalam situasi yang semakin menantang ini,” katanya.

Sepanjang Januari—Maret, emiten berkode saham ASII ini membukukan total pendapatan sebesar Rp54 triliun, turun 8,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan pendapatan juga diiringi dengan beban pokok yang berkurang 10,81 persen menjadi Rp41,91 miliar.

Meski begitu, kinerja perseroan kian tertekan akibat kenaikan sejumlah pos beban seperti penjualan dan beban umum yang masing-masing meningkat 18,26 persen dan 7,08 persen. Selisih kurs yang diterima perseroan sepanjang 3 bulan ini juga membengkak 242,96 persen menjadi Rp463 miliar.

Hal ini membuat laba bersih atau laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebanyak Rp4,81 triliun. Jumlah ini menurun 7,77 persen dibandingkan kuartal I/2019 yang mencapai Rp5,21 triliun. Laba per saham juga tergusur 7,75 persen menjadi Rp119.

Dari sisi lini bisnisnya, laba Grup Astra pada tahun ini masih dikontribusi oleh sektor otomotif dan jasa keuangan, yang masing-masing tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp1,93 triliun dan Rp1,9 triliun. Kontribusi kedua sektor tersebut meningkat masing-masing 1,31 persen dan 1,14 persen terhadap kuartal I/2019.

Sebagai penopang utama, lini penjualan mobil Astra turun 3 persen pada kuartal I/2020 menjadi 130.00 unit, lebih rendah dari penurunan total pasar mobil sebesar 7 persen. Meski begitu, perseroan mengalami peningkatan pangsa pasar dari 53 persen menjadi 55 persen.

Sementara itu, lini bisnis kendaraan roda dua tercatat mengalami penurunan sebesar 5 persen menjadi 1,2 juta unit pada periode yang sama. Di segmen roda dua, pangsa pasar Astra juga meningkat dari 76 persen menjadi 77 persen karena penurunan penjualannya masih lebih baik dari penurunan total pasar yang mencapai 7 persen.

Namun demikian, kontribusi laba bersih dari sektor alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi tercatat menurut 42,45 persen secara tahunan menjadi Rp1,05 triliun. Sektor ini bersama bisnis teknologi informasi menjadi dua sektor yang menurun di kuartal I/2020.

Di sisi lain, kontribusi laba dari sektor agribisnis mengalami peningkatan tajam sebesar 886,67 persen menjadi Rp296 miliar. Bisnis infrastruktur dan logistik serta bisnis properti juga tercatat meningkat masing-masing 356,25 persen dan 166,67 persen menjadi, masing-masing menjadi Rp73 miliar dan Rp40 miliar.   

Check Also

Erick Thohir : Pembelian Dolar Dilakukan Secara Optimal, Terukur Dan Sesuai Kebutuhan

MarketNews.id Tingkat inflasi di US yang sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energy. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *