Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Crisis Management Protocol (CMP) Diberlakukan Bila Indeks Turun 7,5 % Per Hari

Crisis Management Protocol (CMP) Diberlakukan Bila Indeks Turun 7,5 % Per Hari

Marketnews.id Efek domino dari berguguran nya pasar modal dunia, sudah mulai berdampak pada pasar modal Indonesia. Efek Negatif atas wabah virus Corona yang menyebabkan terpuruknya pasar modal dunia, diharapkan tidak berdampak dalam buat pasar Indonesia. Dasar nya, fundamental emiten dan makro ekonomi Indonesia masih dalam posisi stabil dan aman.

Seperti diketahui, tren penurunan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dalam beberapa pekan terakhir ini, akan direspons PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Caranya melalui sejumlah langkah prosedural, mulai dari mencermati kinerja indeks dan emiten hingga mengaktifkan Crisis Management Protocol (CMP).


Menurut Direktur BEI, Hasan Fawzi, penurunan IHSG sebesar 1 persen dalam sehari akan disikapi BEI dengan meningkatkan pengamatan terhadap kondisi pasar dan emiten. “Kalau terjadi penurunan 5 persen dalam sehari, maka akan dilakukan cooling down seperti yang pernah terjadi di 2008,” kata Hasan usai acara “Go Public Workshop Bersama DPD REI DKI Jakarta” di Gedung BEI Jakarta, Kamis (27/2).


Dia menyebutkan, penurunan IHSG di Sesi I perdagangan hari ini sebesar 2,63 persen ke level 5.539 merupakan dampak global dari penyebaran virus corona. “Saat ini kami sudah memasuki fase mencermati fundamental pasar dan masing-masing emiten yang mengalami penurunan harga saham,” ujar Hasan.


Lebih lanjut Hasan mengungkapkan, jika terjadi penurunan IHSG mencapai 7,5 persen dalam sehari, maka BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia ( KSEI ) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia ( KPEI ) akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengaktifkan CMP.


“Kami sudah memiliki manajemen krisis untuk mengantisipasi kondisi terburuk di pasar. Crisis Management Protocol siap diaktivasi jika IHSG menurun 7,5 persen sehari. Tetapi, kondisi pasar kita saat ini masih jauh lebih baik dari krisis keuangan di 2008,” papar Hasan.


Hasan berharap, penurunan IHSG pada hari ini yang melebihi 2,5 persen sebagai titik terendah yang sebelumnya sudah diproyekaikan oleh para analis maupun institusi yang bersentuhan dengan pasar modal. “Secara umum, fundamental ekonomi Indonesia sangat baik, kinerja emiten (di 2019) juga terbukti baik. Mereka sudah menyampaikan laporan keuangan kepada publik,” tuturnya.


Menurut Hasan, penurunan IHSG mengikuti penurunan bursa saham utama di tingkat global yang penurunannya jauh lebih dalam. “Penurunan ini bukan hanya di pasar kita saja, karena eskalasi global terkait penyebaran virus Corona.

“Pemerintah kita juga sudah meng-address isu penyebaran corona melalui berbagai kebijakan,” katanya.


Hasan meyakini, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia maupun para emiten di pasar modal domestik tidak akan menekan IHSG untuk turun hingga 10 persen. “Kalau terjadi penurunan sampai 10 persen dalam sehari, maka akan dilakukan suspensi terhadap IHSG ,” imbuh Hasan.

Hingga sesi pertama siang ini, IHSG belum menunjukkan tanda – tanda bangkit, bahkan semakin terperosok dalam zona pelemahan. Siang ini, Kamis (27/2), indeks terkoreksi 2,63 persen atau 150 poin ke level 5.539 dari sesi pembukaan di level 5.680. Sempat menyentuh level tertinggi 5.684 dan terendah 5.538 pada zona merah.
Sebanyak 62 emiten bergerak menguat, 331 emiten melemah dan 85 emiten stagnan.

Seluruh sektor tercatat melemah dengan pelemahan tertinggi pada sektor keuangan sebesar 3,99 persen menjadi 1.253. Kemudian sektor industri dasar melemah sebesar 2,94 persen menjadi 768, sektor infrastruktur sebesar 1,09 persen menjadi 975.
Selanjutnya sektor manufaktur 2,26 persen menjadi 1,234, konsumer melemah 2,03 persen menjadi 1.806 dan sektor pertambangan melemah 1,75 persen menjadi 1.378, sektor aneka industri sebesar melemah 1,72 persen menjadi 1.049, perkebunan 2,70 persen menjadi 1.197, properti melemah 1,16 persen menjadi 431, perdagangan melemah 1,22 persen menjadi 673.


Emiten teraktif hingga jeda siang ini adalah BBRI dengan nilai transaksi sebesar Rp550,27 miliar, BMRI Rp317 miliar, BBNI Rp106,48 miliar, ASII Rp96,38 miliar, dan HMRE Rp33,04 miliar. Dari indeks kompas100, emiten yang menguat paling tinggi TDPM (2,05 persen), BNGA (1,96 persen), MDKA (1,91 persen), MIKA (0,82 persen) dan SIDO (0,81 persen).



Dari market statistik, investor asing dominan menjual saham dengan nilai penjualan nett Rp448,50 miliar dan volume 21.059 lot. Saham yang paling banyak dibeli oleh asing adalah BBRI, BBCA, ICBP, BMRI, BBNI.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *