MarketNews.id-Pemerintah hingga akhir 2026, memproyeksikan belanja negara sebesar Rp3.942, 4 triliun atau 102,6 persen dari pagi APBN. Sementara defisit diperkirakan mencapai Rp743,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap PDB.
Menariknya, Pemerintah memproyeksikan pendapatan negara tahun ini 101,7 persen dari target APBN, tapi belanja negara diproyeksikan mencapai 102,6 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, belanja negara hingga akhir tahun diproyeksikan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN .
Dengan perkembangan tersebut, outlook defisit APBN 2026 diperkirakan sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan pembiayaan anggaran sebesar Rp734,3 triliun.
” APBN 2026 dijaga tetap sehat dan berkesinambungan, dengan pembiayaan anggaran yang efisien, defisit terkendali dalam batas aman sebesar 2,85% PDB untuk menjaga kredibilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa 7 Juli 2026.
Hingga Semester I 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN dan tumbuh 21,4 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut ditopang penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak ( PNBP ) sebesar Rp271,0 triliun.
Kinerja tersebut didukung meningkatnya aktivitas ekonomi, penguatan tata kelola perpajakan dan kepabeanan, serta peningkatan kualitas layanan kementerian/lembaga dan Badan Layanan Umum.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656,0 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN dan tumbuh 17,8 persen secara tahunan dibandingkan Semester I 2025.
Belanja negara dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis, penyaluran bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, subsidi dan kompensasi, serta transfer ke daerah untuk memperkuat pelayanan publik dan pembangunan daerah.
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN Semester I 2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB dan tetap berada dalam batas aman.
“Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian global, peran APBN sangat strategis sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas perekonomian dan menjaga daya beli masyarakat, dan kebijakan counter cyclical dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, adil dan merata,” ujar Purbaya.
Purbaya menjelaskan, APBN 2026 tetap dirancang sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional.
Agenda tersebut mencakup penguatan ketahanan pangan dan energi, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, peningkatan kualitas sektor pendidikan, penguatan program layanan kesehatan, pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan UMKM , penguatan sistem pertahanan semesta, serta percepatan investasi dan peningkatan perdagangan global.
” APBN 2026 bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mendukung agenda prioritas pembangunan nasional dengan tetap menjaga tata kelola keuangan yang sehat, kredibel dan akuntabel,” ucap Purbaya.
Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian global yang mulai mereda, meski masih diwarnai berbagai risiko.
Pada triwulan I 2026, perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan, menjadi pertumbuhan triwulan I tertinggi sejak 2014. Inflasi pada Juni 2026 juga tetap terkendali pada level 3,34 persen secara tahunan.
Pertumbuhan kredit, likuiditas perekonomian, aliran modal asing yang kembali mencatat net inflow, dan posisi cadangan devisa juga menunjukkan perkembangan positif sehingga menopang stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas sektor keuangan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Purbaya menegaskan, APBN akan terus dijaga agar tetap sehat dan berkelanjutan sekaligus mendukung pelaksanaan agenda prioritas pembangunan nasional, khususnya Program Makan Bergizi Gratis, Revitalisasi Sekolah, Cek Kesehatan Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih.
Pemerintah juga akan memperkuat sinergi dan harmonisasi belanja pemerintah pusat dan daerah agar kualitas pengelolaan anggaran semakin baik dan manfaat APBN semakin dirasakan masyarakat.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal