MarketNews.id- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan keempat April, Jumat (24/4), dengan penurunan tajam IHSG sebesar 3,38% ke level 7.129, lebih 500 poin di bawah sesi perdagangan pekan sebelumnya.
Investor asing mencatatkan arus keluar ekuitas sebesar USD55 juta.
PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa hal penting pekan ini, antara lain;
Ashmore mencatat, sektor yang membukukan penurunan terbesar adalah energi dan properti & real estat yang masing-masing ambles -8,15% dan -6,30%. Sementara itu sektor transportasi & logistik menjadi yang berkinerja terbaik dengan melonjak +4,61%.
Pasar berkinerja terbaik pekan ini adalah minyak mentah dan batu bara dengan loncatan harga +18,58% dan +6,75%). Sebaliknya, terjadi koreksi tajam pada Indeks LQ45 (-8,97%) dan IHSG (-6,61%).
Di Indonesia, bank sentral mempertahankan suku bunga sesuai perkiraan, sementara jumlah uang beredar (M2) tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.
Perpanjangan Pencatan Senjata
Ashmore menggarisbawahi bahwa pekan ini, pasar global tetap dipengaruhi sentimen berita dan cenderung berhati-hati, seiring perpanjangan gencatan senjata yang hanya memberi waktu untuk mencari solusi konflik.
Perkembangan ini kembali mendorong pola serupa: harga minyak naik dengan Brent melampaui USD105, dolar AS menguat (DXY mendekati 99), dan minat terhadap aset berisiko menjadi lebih defensif.
Sementara itu, Indonesia mengalami pelemahan rupiah di tengah pembaruan dari penyedia indeks global dan domestik terkait reformasi pasar modal.
Ashmore berpendapat, menjelang berakhirnya gencatan senjata sebelumnya, AS memperpanjang gencatan senjata dengan Iran pada 21 April untuk memberi waktu memulai kembali pembicaraan damai.
Namun, hal ini belum memperbaiki arus pelayaran di Selat Hormuz karena masih terjadi serangan terhadap kapal, sehingga premi risiko tetap tinggi.
“Sisi positifnya, AS dan Iran tampak bersedia melanjutkan negosiasi, meski kondisi masih dinamis karena belum ada kompromi signifikan dari kedua pihak. Ini menunjukkan dampak terhadap pasar global masih akan berlanjut, dengan ketidakpastian utama pada durasi konflik,” tulis Ashmore.
Di Indonesia, Ashmore menyoroti, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi dan menekankan stabilitas nilai tukar di tengah pelemahan global akibat konflik Timur Tengah, serta membuka peluang pengetatan jika diperlukan.
Pasar juga mencermati pengakuan resmi atas reformasi terbaru oleh otoritas Indonesia, meski MSCI masih akan mengevaluasi perkembangannya.
Menurut Ashmore, ini menjadi langkah positif, dengan fokus pada implementasi dan konsistensi reformasi untuk meningkatkan standar pasar modal Indonesia.
MSCI juga akan menggunakan data High Shareholder Concentration (HSC) dari IDX dan KSEI , di mana saham terkait akan dikeluarkan pada peninjauan indeks berikutnya.
“Tidak ada indikasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia menjadi frontier, sehingga skenario terburuk kemungkinan telah terlewati,” sebut Ashmore.
Secara keseluruhan, Ashmore menilai pelemahan pasar saham Indonesia baru-baru ini terutama dipicu oleh pelemahan rupiah yang sempat menembus 17.300 per dolar, serta meningkatnya risiko konflik Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak di atas USD100 dan menekan minat pada aset berisiko global.
“Ke depan, pasar akan terus mencermati perkembangan dan peluang pembicaraan damai antara AS dan Iran yang dapat menghasilkan hasil kredibel, serta potensi perbaikan struktural pasar modal jika reformasi berjalan efektif dan konsisten sehingga mampu menarik kembali investor global.
(Ashmore)
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal