Home / Korporasi / BUMN / Wadirut MIND ID: Indonesia Harus ‘Naik Kelas’, Untuk Kejar Pertumbuhan 8 Persen

Wadirut MIND ID: Indonesia Harus ‘Naik Kelas’, Untuk Kejar Pertumbuhan 8 Persen

MarketNews.id- Wakil Direktur Utama (Wadirut) Mining Industry Indonesia (MIND ID), Dany Amrul Ichdan mengatakan Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, sudah saatnya “naik kelas” dengan mengejar pertumbuhan 8 persen.

Dany menuturkan, keunggulan komparatif yang dimiliki harus dioptimalkan untuk bisa memberi kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih besar lagi.

Hal itu disampaikannya dalam acara Studium Generale dengan topik “Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas” di Aula Barat ITB Bandung, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Pada kesempatan itu, hadir pula Menko Bidang Pemberdayaan Masayarakat, Muhaimin Iskandar dan Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara.

Dalam pernyataannya, Dany menilai selama bertahun-tahun ekonomi Indonesia cenderung terjebak di kisaran pertumbuhan 5 persen karena struktur ekonomi yang masih bertumpu pada komoditas mentah dan nilai tambah yang terbatas.

“Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5 persen. Padahal, dengan modal yang kita miliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata Dany.

Strategi pembangunan berkualitas ini diuraikan juga dalam bukunya berjudul ‘Indonesia Naik Kelas’ yang diluncurkan akhir tahun 2025.

Cadangan Mineral Jadi Peluang Besar

“Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan. Cadangan mineral strategis Indonesia menempati peringkat teratas dunia, mulai dari timah, nikel, emas, bauksit hingga batubara, dengan usia cadangan puluhan tahun,” terang Dany.

Kendati demikian, Dani menilai potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

Kontribusi penerimaan pajak dan royalti terhadap PDB Indonesia masih berada di kisaran 9%-10%, jauh di bawah praktik negara-negara maju yang sudah mencapai 30%-40%.

Kondisi ini mencerminkan masih dominannya ekspor bahan mentah dan lemahnya hilirisasi industri.

“Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri,” ujar Dany.

Dany menjelaskan, selain cadangan mineral strategis, Indonesia juga memiliki peluang besar dari secondary resources dan limbah industri tambang.

“Bukan hanya tambang potensi juga ada di industri lain seperti perikanan dan lain-lain, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.

Di sisi lain, monetisasi sumber daya sekunder ini dinilai dapat memperpanjang umur ekonomi sumber daya alam sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Penguatan Riset Jadi Kunci

Dany menambahkan, seluruh potensi tersebut harus diorkestrasi melalui kebijakan pemerintah yang berpihak pada peningkatan kapabilitas industri nasional. Hal itu mencakup penguasaan teknologi, penguatan riset dan pengembangan (R&D), serta penciptaan iklim regulasi yang mendukung industri dalam negeri.

“Saat ini, anggaran riset Indonesia yang masih sekitar 0,3% dari PDB dinilai belum memadai untuk mendorong Indonesia bertransformasi dari sekadar pengadopsi teknologi menjadi pencipta inovasi,” sebutnya.

Kerangka strategi dirangkum Dany dalam konsep DAI, yakni Distinctive, Adaptive, dan Inclusive.

Distinctive yaitu mendorong strategi industrialisasi berbasis keunggulan nasional, mulai dari bioenergi hingga ekonomi halal, serta mendorong diferensiasi pasar domestik.

Kemudian, Adaptive yaitu merespons dinamika global seperti CBAM, geopolitik multipolar, integrasi AI dalam industri, serta transisi energi hijau.

Adapun, Inclusive yaitu membangun ekosistem industri yang melibatkan UMKM, startup teknologi, BUMN, dan perguruan tinggi dalam satu rantai nilai yang koheren.***

Check Also

Bank Jakarta Raih Penghargaan Regulatory Compliance Award

MarketNews.id-Konsistensi Bank Jakarta dalam menerapkan tata kelola perusahaan berhasil meraih penghargaan Gold Regulatory Compliance pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *