Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / SUV Bekas Vs Mobil Listrik Di Harga Rp250 juta. Mana Yang Bikin Buntung?

SUV Bekas Vs Mobil Listrik Di Harga Rp250 juta. Mana Yang Bikin Buntung?

MarketNews.id- Pasar otomotif Indonesia di segmen Rp250–Rp300 jutaan kini diwarnai pilihan menarik. Di satu sisi, konsumen bisa memboyong SUV bekas segmen Compact bermesin konvensional (ICE) seperti Honda HR-V, Hyundai Creta, atau Wuling Almaz bekas tahun muda (2021–2023).

Di sisi lain, deretan mobil listrik baru (EV) dalam format SUV/Crossover ringkas seperti Jaecoo J5 EV, Wuling BinguoEV, hingga varian entry-level BYD Atto series makin gencar menggoda pasar.

​Namun, pertimbangan antara SUV bekas vs EV baru bukan sekadar memilih antara bahan bakar bensin atau daya listrik.

Jika dianalisis dari data industri dan tren pasar sekunder, ada risiko finansial tersembunyi yang perlu dikritisi.

​1. Penyusutan Nilai: Kerugian Tersembunyi Mobil Listrik Baru
​Salah satu pertimbangan utama saat menyandingkan SUV bekas vs mobil listrik baru adalah depresiasi harga.

EV baru memang menawarkan efisiensi biaya operasional harian yang sangat murah. Namun, nilai kendaraan listrik di pasar sekunder cenderung merosot jauh lebih cepat.

​Laporan iSeeCars Depreciation Study menelusuri data penurunan harga kendaraan secara global dan menemukan perbedaan signifikan antara mobil bermesin pembakaran internal dengan kendaraan listrik.

​”Jelas bahwa pembeli mobil bekas tidak lagi bersedia membayar harga premium untuk kendaraan listrik.” ujar Karl Brauer, Executive Analyst di iSeeCars, yang di akses Selasa (20/10/2026).

​Temuan iSeeCars menunjukkan bahwa rata-rata EV kehilangan nilai hingga 57%–59% dalam 5 tahun pertama, sementara mobil bensin/SUV konvensional hanya menyusut sekitar 41%.

​Dalam konteks Indonesia, cepatnya penurunan harga EV baru dipicu oleh dua faktor mendasar:

​Laju Teknologi yang Terlalu Cepat: Perkembangan jarak tempuh baterai dan kecepatan pengisian daya (fast charging) berkembang pesat setiap tahunnya, membuat EV model lama terasa cepat tertinggal.

​Perang Harga Pabrikan: Diskon masif dan penyesuaian harga mobil listrik baru oleh produsen secara otomatis langsung menekan nilai resale value EV di pasar mobil bekas.

2. Stigma Baterai vs Realita Resale Value

Bagi konsumen yang mempertimbangkan pilihan SUV bekas apa EV baru, kecemasan akan daya tahan baterai menjadi faktor psikologis terbesar. Menariknya, riset teknis independen membuktikan bahwa baterai EV sebenarnya jauh lebih awet daripada dugaan publik.

“Kabar baiknya, baterai EV bertahan sangat baik seiring waktu. Studi menunjukkan bahwa sebagian besar baterai kendaraan listrik akan bertahan lebih lama dari pada usia fisik mobil itu sendiri.” tulis laporan Greentec Auto dari Riset Geotab (Lembaga Analisis Telematika Otomotif Global.

​Data Geotab mencatat degradasi kapasitas baterai EV rata-rata hanya berkisar 2,3% per tahun. Sayangnya, selama belum ada standar resmi pemeriksaan kesehatan baterai (State of Health/SoH) yang transparan di pasar mobil bekas Indonesia, calon pembeli tetap enggan membayar mahal untuk EV bekas.

​Akibatnya, konsumen yang membeli EV baru hari ini berisiko menanggung rugi depresiasi yang besar saat ingin menjualnya kembali beberapa tahun mendatang.

​3. SUV Bekas: Kepastian Biaya & Kepraktisan Infrastruktur Indonesia
​Di segmen yang sama (Rp250–Rp300 juta), membeli SUV bekas berusia 2–4 tahun menawarkan kestabilan finansial dan kepraktisan yang lebih terprediksi:

Depresiasi Melandai

SUV bensin bekas telah melewati masa penurunan nilai paling curam yang biasanya terjadi pada 1–2 tahun pertama kepemilikan.

​Kesesuaian Infrastruktur Indonesia
Penggunaan SUV konvensional tidak bergantung pada jaringan SPKLU yang ketersediaannya di luar kota-kota besar di Indonesia masih belum seimbang.

​Suku Cadang & Jaringan Bengkel
Ekosistem perbaikan SUV bensin sudah sangat matang dari bengkel resmi hingga bengkel spesialis independen, berbeda dengan EV yang perbaikannya masih bergantung penuh pada diler resmi.

​Perbandingan Ringkas: SUV Bekas Bensin vs EV Baru. ​Berikut poin-poin komparasi utama di segmen Compact SUV (Rp250–Rp300 juta) yang bisa Anda jadikan panduan:

​Nilai Jual Kembali (Resale Value)
​SUV Bekas Bensin cenderung lebih stabil karena penurunan harga terbesar (depresiasi awal) sudah dilewati oleh pemilik pertama.

​EV Baru berisiko tinggi mengalami penyusutan nilai secara drastis dalam 2 hingga 4 tahun pertama.

​Infrastruktur & Fleksibilitas Perjalanan
​SUV Bekas Bensin siap digunakan untuk perjalanan jarak jauh antar kota atau antar provinsi tanpa khawatir mencari tempat pengisian daya.

​EV Baru sangat bergantung pada ketersediaan rute SPKLU, terutama jika digunakan untuk perjalanan ke luar kota besar.

​Biaya Operasional & Perawatan
​SUV Bekas Bensin, biaya operasional harian lebih tinggi karena konsumsi BBM, pergantian oli rutin, dan perawatan komponen mesin.

​EV Baru sangat hemat untuk penggunaan harian karena biaya pengisian daya listrik jauh lebih murah dibanding BBM.

​Fitur & Teknologi
​SUV Bekas Bensin dibekali fitur keselamatan dan kenyamanan yang sudah lengkap dan teruji di kelasnya.

​EV Baru menyuguhkan teknologi serba digital, fitur ADAS terbaru, dan fitur modern seperti V2L (Vehicle-to-Load).

​Kesimpulan
​Ketika mengadu SUV bekas vs EV baru di segmen harga setara, keputusan akhir kembali pada prioritas penggunaan.

​Bagi pengguna yang mencari kendaraan harian rute dalam kota dengan fitur modern serta biaya operasional murah, membeli mobil listrik baru adalah langkah menarik.

Namun, jika memperhitungkan resale value, fleksibilitas jalan jauh di Indonesia, dan kepastian biaya jangka panjang, memboyong SUV bekas bermesin bensin masih menjadi opsi yang paling rasional secara finansial.***

Check Also

Investasi  Masuk RI Tembus Rp1.539 Per September 2026

MarketNews.id- Realisasi investasi Indonesia sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun. Penanaman modal asing (PMA) menyumbang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *