MarketNews.id-Kemampuan refinancing emiten sepanjang semester pertama 2026 semakin membaik. Hal ini terlihat dari rasio penerbitan terhadap Surat utang jatuh tempo naik jadi 158,2 persen.
Sementara itu, meski yield mengalami peningkatan, obligasi korporasi masih menawarkan biaya pendanaan yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit perbankan. Sedangkan aktifitas pasar tetap dinilai solid meski surat utang korporasi yang diterbitkan di semester I alami penurunan hingga 3,91 persen.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai, aktivitas penerbitan surat utang korporasi sepanjang Semester I-2026 tetap menunjukkan kinerja yang solid, meski mulai menghadapi tekanan kenaikan imbal hasil (yield) pada beberapa bulan terakhir.
Menurut Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto di Jakarta, Rabu 22 Juli 2026, selama enam bulan pertama tahun ini nilai penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp87,35 triliun atau mengalami penurunan 3,91 persen dibandingkan dengan periode yang sama setahun sebelumnya yang mencapai Rp90,9 triliun.
“Penerbitan pada awal 2026 masih relative semarak. Perusahaan memanfaatkan yield rendah selama Januari-Februari untuk meraih pendanaan dari pasar surat utang. Kenaikan yield baru-baru ini menjadi faktor negatif diantisipasi ke depan yang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, meski secara nominal mengalami penurunan, namun kemampuan emiten memenuhi kebutuhan refinancing justru membaik.
Hal ini tercermin dari rasio penerbitan terhadap surat utang yang jatuh tempo mengalami peningkatan menjadi 158,2 persen pada 1H26, dibandingkan 140,3 persen pada Semester I-2025.
Lebih lanjut Suhindarto mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa dana yang berhasil dihimpun dari pasar obligasi masih jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai surat utang yang jatuh tempo, sehingga likuiditas pasar surat utang korporasi tetap terjaga.
Dia merincikan, total surat utang korporasi yang jatuh tempo selama Januari-Juni 2026 mencapai Rp55,2 triliun atau lebih rendah dibandingkan dengan nilai penerbitan baru sebesar Rp87,35 triliun. Kondisi ini menjadi indikator bahwa pasar obligasi domestik masih mampu memenuhi kebutuhan pendanaan korporasi.
Pada awal tahun, aktivitas penerbitan relatif tinggi karena perusahaan memanfaatkan momentum penurunan yield selama Januari-Februari untuk memperoleh biaya pendanaan yang lebih murah. Selain itu, tingkat suku bunga di pasar surat utang masih lebih kompetitif dibandingkan pembiayaan melalui perbankan.
Namun demikian, Suhindarto mengingatkan, kenaikan yield yang terjadi belakangan ini mulai menjadi tantangan bagi penerbitan surat utang baru.
Peningkatan biaya pendanaan diperkirakan akan mempengaruhi keputusan emiten dalam mengakses pasar obligasi pada paruh kedua tahun ini.
Meski terjadi kenaikan yield, Suhindarto menegaskan, pendanaan melalui pasar surat utang masih menawarkan biaya yang lebih rendah dibandingkan kredit perbankan.
Hal ini terlihat dari perbandingan rata-rata suku bunga kredit dengan yield obligasi berdasarkan peringkat kredit.
Yield obligasi berperingkat AAA, AA, A dan BBB sepanjang periode pengamatan masih berada di bawah rata-rata suku bunga kredit perbankan, meskipun seluruhnya mengalami kenaikan sejak akhir 2025.
Suhindarto menyebutkan, selisih biaya pendanaan tersebut tetap menjadi daya tarik bagi korporasi untuk memperoleh sumber pembiayaan jangka panjang melalui pasar modal dibandingkan mengandalkan pinjaman bank.
Selain itu, kondisi suku bunga yang lebih rendah pada awal tahun juga dimanfaatkan emiten untuk memperpanjang tenor pendanaan.
Dia memaparkan, komposisi penerbitan surat utang Semester I-2026 didominasi obligasi bertenor lima tahun sebesar 28,31 persen, lalu diikuti tenor 10 tahun sebesar 28,01 persen dan tenor tiga tahun sebesar 27,85 persen.
Sementara itu, obligasi bertenor tujuh tahun menyumbang 11,45 persen dan tenor lainnya sebesar 2,21 persen.
Suhindarto beranggapan, kecenderungan meningkatnya porsi penerbitan obligasi berjangka menengah hingga panjang menunjukkan perusahaan berupaya mengamankan sumber pendanaan dengan biaya yang relatif lebih murah sebelum terjadi kenaikan biaya dana yang lebih tinggi di masa mendatang.
Secara bulanan, aktivitas penerbitan di 1H26 berfluktuasi, tercermin dari nilai penerbitan terbesar terjadi pada Februari 2026 sebesar Rp29,1 triliun, kemudian menurun menjadi Rp23,9 triliun pada Maret, senilai Rp7,7 triliun pada April, sebesar Rp11,04 triliun pada Mei dan senilai Rp9,25 triliun pada Juni.
Sebaliknya, nilai surat utang yang jatuh tempo cenderung lebih rendah dibandingkan penerbitan baru di hampir seluruh bulan selama periode tersebut.
Menurut Suhindarto, pasar surat utang korporasi Indonesia masih berada dalam kondisi yang sehat. Meskipun kenaikan yield mulai meningkatkan biaya pendanaan, namun pasar obligasi tetap menjadi alternatif pembiayaan yang kompetitif bagi dunia usaha, terutama untuk memenuhi kebutuhan pendanaan jangka panjang dan refinancing.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal