MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan terakhir Juni 2026, Jumat (26/6), dengan mencatatkan penurunan IHSG sebesar 1,72% ke level 5.896, atau 281 poin lebih rendah dibanding akhir pekan sebelumnya di posisi 6.177.
Selain itu, investor asing mencatatkan arus keluar ekuitas sebesar USD162 juta dalam sepekan terakhir.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat sejumlah poin penting dalam sepekan terakhir sebagai berikut;
Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir?
Ashmore mencatat, Sektor yang mengalami pelemahan terbesar dalam sepekan terakhir adalah sektor Basic Materials dan Industrials, yang masing-masing terpangkas sebesar -11,19% dan -7,41%.
Sementara itu, sektor dengan kinerja terbaik adalah Healthcare yang melonjak 2,22%.
Pasar dengan kinerja terbaik pekan ini dicatatkan oleh Indeks Dow Jones (+0,69%) dan US Treasury (+0,38%).
Sebaliknya, terjadi koreksi pada harga minyak mentah (-9,98%) dan Indeks Hang Seng (-5,24%).
Pertumbuhan ekonomi AS (GDP) kuartal I direvisi naik menjadi 2,1% secara tahunan ( annualized QoQ ), lebih tinggi dibandingkan survei sebelumnya sebesar 1,6%, menunjukkan ekonomi AS lebih tangguh dari perkiraan awal.
Core PCE sesuai ekspektasi di level 0,3% secara bulanan, sementara pesanan barang tahan lama turun 4,5% setelah kenaikan kuat pada bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan tekanan inflasi masih bertahan, sementara permintaan investasi bisnis mulai kembali normal setelah periode penguatan sebelumnya.
“Di Indonesia, pertumbuhan jumlah uang beredar M2 meningkat, menunjukkan ekspansi likuiditas yang berlanjut dalam sistem keuangan,” tulis Ashmore.
Relaksasi harga minyak
Ashmore menggarisbawahi, meningkatnya aktivitas pelayaran secara bertahap melalui Selat Hormuz, sepanjang pekan ini, mendorong harga minyak turun mendekati level sebelum konflik, bahkan sempat turun hingga sekitar USD72 per barel. Kondisi ini membantu meningkatkan selera global terhadap aset berisiko, karena risiko tekanan inflasi akibat energi berkepanjangan mulai berkurang.
“Namun, investor tetap berhati-hati karena risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Harga minyak kembali meningkat setelah laporan adanya kapal pengangkut minyak yang terkena serangan,” papar Ashmore.
Ashmore melihat, narasi pasar kini bergeser dari kekhawatiran terhadap dampak perang berkepanjangan menuju risiko dan jalur normalisasi kondisi.
Situasi terburuk kemungkinan telah terlewati seiring membaiknya arus perdagangan melalui Selat Hormuz, tetapi investor masih menunggu konfirmasi bahwa jalur pelayaran, kondisi asuransi, dan keamanan benar-benar kembali normal.
Jika harga minyak dapat bertahan di level saat ini, kekhawatiran inflasi berpotensi semakin mereda. Namun, kondisi geopolitik yang rapuh membuat risiko kenaikan harga minyak dapat kembali muncul apabila terjadi insiden baru, yang kembali menekan aset berisiko,” imbuh Ashmore.
Harga minyak yang lebih rendah saat ini mendukung ekspektasi inflasi, tetapi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed tahun ini masih cenderung mengarah pada kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga hingga akhir tahun berada sekitar 76%.
Ashmore menilai, pasar masih mencermati indikator ekonomi yang dapat memengaruhi keputusan The Fed dalam pertemuan mendatang. Imbal hasil obligasi AS (US yields) dan dolar AS masih sensitif terhadap kejutan data inflasi maupun tenaga kerja.
Perkembangan Indonesia dan MSCI
Di Indonesia, pengumuman yang telah lama dinantikan dari MSCI akhirnya keluar, namun tidak ada keputusan kritis dalam pengumuman bulan ini.
“Pesan utama MSCI adalah mengakui berbagai inisiatif seperti kerangka HSC dan keterbukaan informasi pemegang saham,” tulis Ashmore.
Meski demikian, Ashmore melihat, kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang tidak transparan dan perilaku perdagangan terkoordinasi masih menjadi perhatian. Implementasi kebijakan serta hasil yang berkelanjutan masih akan terus dipantau.
Indonesia tetap dikategorikan sebagai Emerging Market, sehingga kekhawatiran langsung terkait potensi penurunan status menjadi Frontier Market mereda. Namun, tindak lanjut dari MSCI masih dinantikan pada November mendatang.
Ashmore berpendapat, lingkungan global saat ini masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, terutama arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
Minat pada aset berisiko global membaik dalam sepekan terakhir, tetapi investor masih melihat adanya kerentanan dan baru akan meningkatkan eksposur risiko apabila terdapat bukti normalisasi yang lebih berkelanjutan.
“Pengumuman terbaru MSCI belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap saham Indonesia, namun kondisi terburuk kemungkinan sudah berlalu,” ungkap Ashmore.
Strategi saat ini tetap selektif terhadap saham dengan fundamental kuat serta obligasi dengan likuiditas tinggi, sekaligus menjaga diversifikasi antar kelas aset. (Ashmore)
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal