MarketNews.id– Analis ekonomi dari Menteng Kleb, Kusfiardi, memberikan catatan kritis terhadap kondisi ekonomi nasional yang menunjukkan anomali tajam pada awal Mei 2026.
Meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi yang impresif, ketimpangan yang terjadi di pasar keuangan memicu kekhawatiran akan keberlanjutan daya beli masyarakat di sisa tahun anggaran.
Kusfiardi menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “Dualitas Ekonomi”. Di satu sisi, sektor riil dan pasar modal menunjukkan optimisme tinggi, namun di sisi lain, pasar valuta asing memberikan sinyal peringatan keras melalui depresiasi Rupiah yang signifikan.
Pertumbuhan Tahunan yang Semu?
Laporan BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh kuat sebesar 5,61% (y-on-y) pada Kuartal I-2026, melampaui target APBN di kisaran 5,2% – 5,8%. Namun, Menteng Kleb mencatat adanya kontraksi sebesar 0,77% (q-to-q) dibandingkan kuartal sebelumnya.
“Pertumbuhan tahunan yang berdampingan kontraksi kuartalan menunjukkan adanya perlambatan aktivitas ekonomi pasca-siklus musiman. Momentum ini rentan hilang pada Kuartal II,” ujar Kusfiardi.
Euforia IHSG vs Depresiasi Rupiah
Pasar merespons data BPS secara bertolak belakang. IHSG melesat 1,22% ke level 7.057, bisa jadi mencerminkan kepercayaan investor pada fundamental emiten.
Namun, melihat Rupiah justru terperosok ke level Rp17.424 per dolar AS, menciptakan “Celah Kredibilitas” sebesar Rp924 dari asumsi APBN (Rp16.500).
Menurut Kusfiardi, pelemahan Rupiah di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat membuktikan bahwa sentimen global—seperti risiko inflasi negara berkembang dan perlambatan ekonomi dunia ke angka 3 %—memiliki pengaruh yang lebih dominan daripada narasi domestik.
Ancaman Fiskal dan Daya Beli
Menteng Kleb memperingatkan bahwa ketidaksesuaian asumsi makro ini membawa risiko nyata. Pertama, Imported Inflation. Pelemahan kurs akan menaikkan harga bahan baku impor, memicu inflasi yang berisiko melampaui target 2,5%.
Kedua, Beban APBN. Defisit anggaran sebesar 2,48% terancam membengkak akibat naiknya beban subsidi energi dan bunga utang luar negeri akibat selisih kurs.
Ketiga, Erosi Daya Beli. Jika harga barang merangkak naik, motor utama pertumbuhan ekonomi (konsumsi rumah tangga) akan tergerus pada kuartal mendatang.
Sebagai penutup, Kusfiardi menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam posisi yang rapuh. Pertumbuhan ekonomi Q1-2026 terbukti belum cukup kuat untuk menjangkar stabilitas nilai tukar.
“Diperlukan sinkronisasi kebijakan yang lebih agresif antara intervensi moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah. Tanpa stabilisasi kurs yang cepat, pertumbuhan di awal tahun ini hanya akan menjadi ‘puncak semu’ yang segera diikuti penurunan tajam akibat tekanan biaya hidup masyarakat,” pungkasnya.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal