MarketNews.id-Ada dua faktor utama penyebab kurs Rupiah alami penguatan hari ini. Pertama, langkah Bank Indonesia (BI) menaikan tingkat bunga acuan atau BI Rate 50 poin menjadi 5,25 persen. Langkah ini untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi di tengah tekanan pasar global yang masih belum menentu.
Faktor Kedua, pasar merespon positif pidato Presiden Prabowo terkait RAPBN 2027, dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8-6, 5 persen, Inflasi 1,5-3, 5 persen serta defisit APBN dijaga di kisaran 1,8-2,4 persen dari PDB.
Sementara hambatannya adalah, sentimen eksternal masih dibayangi konflik Iran – AS dan kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp17.653 per dolar AS, menguat moderat 53 poin atau 0,29% dibandingkan penutupan Selasa 19 Mei di Rp17.706 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen eksternal yang masih dibayangi ketegangan geopolitik Timur Tengah dan penguatan indeks dolar AS.
“Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25%. Suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25% dan Lending Facility sebesar 6.25%,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Keputusan ini mengakhiri kebijakan BI menahan suku bunga selama 8 bulan beruntun. Keputusan ini, menurut BI, dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,51%.
Selain itu, Ibrahim menilai pelaku pasar merespons positif pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM- PPKF ) RAPBN 2027 di DPR RI.
“Pasar merespon positif atas pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% pada 2027,” ujar Ibrahim.
Prabowo mengungkapkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir adalah 5 persen. Namun ia mengakui meski ekonomi melaju, kelas menengah menurun dan kemiskinan meningkat.
Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menargetkan inflasi di kisaran 1,5% hingga 3,5%.
Ibrahim menambahkan, pasar juga mencermati target nilai tukar rupiah dan arah fiskal pemerintah tahun depan.
Dari sisi nilai tukar, rupiah ditargetkan berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, suku bunga SBN 10 tahun 6,5-7,3 persen.
Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diasumsikan USD70-USD90 per barel. Adapun lifting minyak mentah 602 ribu barel per hari hingga 615 ribu barel per hari dan lifting gas bumi 934 ribu barel setara minyak per hari hingga 977 ribu barel setara minyak per hari,” ujarnya.
Terkait APBN , tahun depan pemerintah menargetkan pendapatan negara di kisaran 11,82% hingga 12,40% dari PDB, belanja negara 13,62 hingga 14,80 persen dari PDB, dan defisit dijaga di kisaran 1,8 hingga 2,4 persen dari PDB.
Dari sisi eksternal, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan perang dengan Iran akan berakhir dengan sangat cepat, meskipun investor tetap waspada terhadap hasil perundingan perdamaian di tengah gangguan berkelanjutan terhadap pasokan Timur Tengah akibat konflik tersebut.
“Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan AS dan Iran telah mencapai kemajuan dalam perundingan, dengan kedua pihak tidak menginginkan dimulainya kembali aksi militer,” ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan, meskipun Trump menegaskan kepada anggota parlemen AS bahwa konflik akan segera berakhir, pasar tetap mencermati potensi eskalasi baru setelah sebelumnya Trump menyebut AS mungkin perlu kembali menyerang Iran sebelum akhirnya menunda rencana tersebut.
Menurut Ibrahim, pasar global masih mengkhawatirkan dampak perang terhadap inflasi, terutama akibat lonjakan harga minyak mentah yang berpotensi memaksa bank sentral utama mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal