MarketNews.id-Neraca Perdagangan Indonesia dalam 68 bulan terakhir konsisten alami surplus. Di akhir 2025 lalu, BPS catat surplus perdagangan RI tembus USD41,05 miliar.
Ekspor nonmigas tumbuh 7,66 persen yoy, dibodorong industri pengolahan +14,47 persen. Sedangkan impor naik tipis 2,83 persen yoy, terutama barang modal +20,06 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang secara kumulatif sejak Januari-Desember 2025 terjadi surplus USD41,05 miliar atau lebih tinggi USD9,72 miliar dibandingkan tahun 2024 sebesar USD31,33 miliar.
Sementara khusus untuk periode Desember 2025 mengalami surplus sebesar USD2,51 miliar atau terjadi selama 68 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Surplus perdagangan ini terjadi karena ditopang oleh surplus komoditas non migas sebesar USD4,60 miliar. Untuk neraca perdagangan migas terjadi defisit USD2,09 miliar.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono mengatakan surplus di tahun 2025 terutama ditopang oleh surplus komoditas non migas sebesar USD60,75 miliar atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar USD51,73 miliar.
“Untuk komoditi migas masih mengalami defisit USD19,70 miliar dari sebelumnya defisit sebesar USD20,40 miliar (tahun 2024),” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin 2 Februari 2026.
Secara rinci, kinerja ekspor pada periode Januari – Desember 2025 secara total sebesar USD282,91 miliar atau tumbuh 6,15 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 (year on year/ yoy) sebesar USD266,53 miliar.
Kinerja ekspor di periode ini didominasi oleh kinerja ekspor produk non migas sebesar USD269,84 miliar atau naik 7,66 persen yoy dari sebelumnya USD250,65 miliar. Sedangkan ekspor migas hanya sebesar USD13,07 miliar atau ambles 17,69 persen yoy dari semula sebesar USD15,88 miliar.
Andil utama atas peningkatan kinerja ekspor pada periode tersebut ditopang oleh sektor industri pengolahan yang mencapai 10,77 persen. Nilai ekspor dari industri pengolahan mencapai USD227,10 miliar atau naik 14,47 persen yoy dari sebelumnya USD198,40 miliar.
“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor selama tahun 2025, cukup besar andilnya dalam mendongkrak ekspor” kata Pudji.
Sementara itu untuk kinerja ekspor khusus di bulan Desember 2025 mencapai USD26,35 miliar atau naik 11,64 persen yoy dari sebelumnya USD23,60 miliar.
Peningkatan ini terjadi karena kinerja ekspor dari sektor non migas yang mencapai USD25,09 miliar atau naik 13,72 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar USD22,06 miliar.
Untuk kinerja ekspor sektor migas periode Desember 2025 terjadi penurunan yang signifikan sebesar 18,14 persen dari USD1,54 miliar menjadi USD1,26 miliar.
Kemudian untuk kinerja impor secara kumulatif pada Januari – Desember 2025 mencapai USD241,86 miliar atau naik 2,83 persen yoy dari sebelumnya USD235,20 miliar. Faktor pendorong utama dari kenaikan impor ini yaitu dari barang modal dengan andil mencapai 3,56 persen.
Nilai impor barang modal ini naik 20,06 persen yoy dari USD41,75 miliar menjadi USD50,13 miliar.
Sementara impor barang konsumsi turun 1,35 persen dari USD22,75 miliar menjadi USD22,42 miliar. Sedangkan impor bahan baku/ penolong USD166,30 miliar atau turun 0,83 persen yoy dari sebelumnya USD170,72 miliar.
“Peningkatan impor terjadi dengan Tiongkok dan Amerika Serikat, sedangkan impor dari Jepang, negara Asean dan Uni Eropa mengalami penurunan,” katanya.
Lalu untuk nilai impor pada bulan Desember 2025 yaitu sebesar USD23,83 miliar atau naik 10,81 persen yoy dari sebelumnya USD21,51 miliar. Impor produk non migas mendominasi dengan nilai USD20,48 miliar atau naik 12,46 persen yoy, sementara impor produk migas naik tipis 1,71 persen yoy menjadi USD3,35 miliar.
“Peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan impor non migas dengan andil sebesar 10,55 persen,” pungkasnya.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal