MarketNews.id-Perkebunan kelapa sawit salah satu faktor penyebab banjir bandang yang terjadi di Aceh, Sumut hingga Sumbar. Tentunya perambahan hutan dan ilegal logging jadi kesimpulan awal penyebab banjir bandang yang menyerang tiga provinsi sekaligus.
Meskipun begitu, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) yang memiliki perkebunan sawit dan pabrik sawit di Tapanuli Utara menyatakan bencana banjir bandang tidak membuat kerusakan signifikan dan pabrik kini sudah beroperasi normal kembali.
CSRA, buka suara terkait keberadaan perkebunan kelapa sawit di lokasi bencana Sumatera. Perseroan mengoperasikan kebun dan pabrik pengolahan sawit di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut).
Direktur CSRA, Seman Sendjaja mengatakan, perkebunan dan pabrik sawit yang dikelola oleh anak usaha perseroan terdampak bencana banjir.
“Dampak banjir pada entitas anak usaha perseroan tidak signifikan. Hanya sebagian kecil dari area kebun terluar dan tidak menyebabkan kerusakan yang berarti,” katanya dalam keterbukaan informasi, Rabu 10 Desember 2025.
Seman menegaskan, kebun dan pabrik sawit tersebut saat ini telah beroperasi secara normal sejak 2 Desember 2025.
Dengan demikian, peristiwa banjir tidak menimbulkan dampak terhadap aset fasilitas produksi dan karyawan perseroan.
Anak usaha CSRA itu memiliki lahan dengan status Sertifikat Hak Guna Usaha ( SHGU ). Kontribusinya cukup signifikan dengan pendapatan hingga November 2025 mencapai Rp681,1 miliar.
Sebelumnya, bencana banjir melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada awal Desember 2025. Curah hujan ekstrem membuat aliran sungai meluap dan merendam permukiman serta kawasan perkebunan.
Selain menutup akses jalan di beberapa titik, banjir juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor perkebunan kelapa sawit yang menjadi tulang punggung produksi di kawasan tersebut.
Kondisi ini ikut menimbulkan kekhawatiran terhadap operasional sejumlah perusahaan sawit.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal