MarketNews.id-Meningkatnya pembayaran cukai kepada Pemerintah, jadi penyebab utama turunnya laba bersih PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Selain cukai yang meningkat, kenaikan beban operasional juga jadi pendorong ikut tergerusnya laba emiten rokok ini.
Meskipun alami, penurunan laba bersih, HMSP masih alami peningkatan laba kotor sebesar 12 persen lantaran efisiensi biaya produksi yang berhasil ditekan.
HMSP, mencatat penurunan penjualan bersih sebesar 5,3 persen untuk periode yang berakhir pada 30 September 2025. Nilai penjualan menjadi Rp83,74 triliun dari Rp88,47 triliun pada kuartal III 2024.
Mengutip laporan keuangan perseroan di laman BEI, Kamis 30 Oktober 2025 penurunan ini sejalan dengan penurunan volume penjualan pada segmen sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin.
Meski pendapatan menurun, laba kotor justru meningkat 12 persen menjadi Rp15,41 triliun, naik dari Rp13,76 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan margin ini ditopang efisiensi beban pokok penjualan yang turun 8,5 persen menjadi Rp68,33 triliun.
Namun, kenaikan beban penjualan dan beban umum serta administrasi turut menekan hasil akhir.
Laba periode berjalan tercatat Rp4,51 triliun, turun 13,6 persen dibanding Rp5,22 triliun pada kuartal III 2024.
Laba per saham juga turun menjadi Rp39 per lembar, dari Rp45 per lembar pada periode sebelumnya.
Dari sisi arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi turun signifikan menjadi Rp4,49 triliun dari Rp8,04 triliun, terutama akibat kenaikan pembayaran cukai dari Rp54,57 triliun menjadi Rp59,74 triliun.
Di sisi lain, arus kas investasi meningkat, sementara pembayaran dividen menurun dari Rp8,06 triliun menjadi Rp6,47 triliun.
Meskipun menghadapi tekanan pada sisi penjualan dan laba bersih, HMSP tetap menjaga posisi keuangan yang kuat dengan total ekuitas mencapai Rp26,3 triliun pada akhir September 2025 atau turun dari Rp28,36 triliun dari Desember 2024.
Aset perusahaan pada periode itu Rp47,92 triliun, terjadi penurunan 11,74 persen dari sebelumnya Rp54,29 triliun.
M Rizki A
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal