Marketnews.id Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan mitigasi bila laju inflasi terus meningkat akibat gangguan perdagangan lantaran konflik berkepanjangan Rusia -Ukraina. Kondisi ini jadi masalah paling kritis bagi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek. Meskipun demikian, BI juga siap untuk menaikkan suku bunga acuan 7-day reverse repurchase rate jika diperlukan. Selain meningkatkan tingkat suku bunga.
Bank Indonesia menaikkan rasio persyaratan cadangan bank (giro wajib minimum/GWM) lebih lanjut jika inflasi mulai meningkat.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengatakan, opsi untuk menaikkan suku bunga akan menjadi pilihan terakhir.
BI telah memulai normalisasi beberapa kebijakan moneter ultra longgar di era pandemi dengan mengumumkan tiga kali kenaikan GWM sebesar 300 basis poin antara Maret hingga September lalu.
“Jika perlu, jika kami melihat likuiditas masih cukup dan inflasi mulai meningkat, kami dapat menggunakan peningkatan lebih lanjut pada rasio persyaratan cadangan,” kata Destry dalam sebuah seminar yang dikutip Reuters, Jumat 22 April 2022.
Destry menambahkan bahwa BI akan berhati-hati agar tindakan pengetatan moneternya tidak menurunkan kemampuan bank untuk memberi pinjaman.
Pernyataannya muncul ketika ekspektasi inflasi di dalam negeri meningkat, meskipun tingkat inflasi Maret sebesar 2,64% masih dalam kisaran target BI sebesar 2% hingga 4%. BI menegasakan inflasi seharusnya akan tetap berada dalam kisaran target tahun ini, tapi rencana pemerintah untuk menyesuaikan harga energi bersubsidi dapat menghadirkan risiko kenaikan.
Destry mengungkapkan BI mengantisipasi inflasi dan gangguan perdagangan akibat perang berkepanjangan di Ukraina. Kondisi tersebut merupakan masalah paling kritis bagi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek.
Kendati demikian, BI siap untuk menaikkan suku bunga acuan 7- day reverse repurchase rate jika diperlukan, ujarnya.
Akan tetapi waktu kenaikan suku bunga pertama akan (menjadi pilihan)]”di akhir, jika semua instrumen kami tidak cukup untuk menangani masalah inflasi,” Destry menambahkan.
Suku bunga acuan saat ini berada pada rekor terendah 3,50%, setelah diturunkan sebesar 150 basis poin selama pandemi.
Destry menegaskan bahwa respons kebijakan moneter BI akan ditujukan untuk menahan tekanan inflasi inti, bukan sebagai reaksi langsung terhadap kenaikan harga bahan bakar.
Sejauh ini BI masih mampu mengelola laju inflasi inti dan belum melihat adanya permintaan terpendam sebagaimana halnya terjadi di negara-negara maju setelah pelonggaran pembatasan COVID-19. (Reuters)