Home / Otoritas / Bank Indonesia / Bank Indonesia : Likuiditas Melimpah, Perbankan Siap Penuhi Permintaan Kredit

Bank Indonesia : Likuiditas Melimpah, Perbankan Siap Penuhi Permintaan Kredit

Marketnews.id Likuiditas perbankan dalam beberapa waktu ini terus melonggar. Hal itu dapat dilihat dari rasio alat likuid seperti posisi dana pihak ketiga yang mencapai 32,71 persen dan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 10,71 persen (yoy). Dengan kecukupan likuiditas itu, dipastikan industri perbankan sangat siap untuk menggelontorkan kreditnya guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Bila perbankan sudah menyalurkan kreditnya, diharapkan dunia usaha kembali bergerak normal. Dan intermediasi bank tidak terus terkontraksi seperti saat ini.

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kondisi likuiditas di industri keuangan tetap longgar. Hal itu didorong kebijakan moneter yang akomodatif (quantitative easing)dari BI yang telah menambah likuiditas di perbankan sebesar Rp94,03 triliun pada tahun 2021 (hingga 15 Juni 2021).


Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan hingga 15 Juni 2021, pembelian SBN di pasar perdana tercatat sebesar Rp116,26 triliun. Jumlah ini terdiri dari Rp40,80 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp75,46 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO).


“Dengan ekspansi moneter tersebut, kondisi likuiditas perbankan sangat longgar, tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yakni 32,71 persen dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10,71 persen (yoy),” kata Perry dalam keterangannya, Kamis (17/6).


Dengan kecukupan likuiditas itu, maka dipastikan industri perbankan sangat siap untuk menggelontorkan kreditnya demi mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sektor rumah tangga, permintaan kredit di sektor properti terus membaik tercermin dari pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang tumbuh 6,61 persen (yoy) sejalan dengan implementasi pelonggaran LTV (loan to value) dan insentif pajak oleh pemerintah. Pemulihan kredit juga terjadi di sektor UMKM , terutama di sektor perdagangan.


“Dalam kaitan ini, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan transparansi SBDK (suku bunga dasar kredit) perbankan serta koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan kredit kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas,” lanjutnya.


Selain longgar, sistem ketahanan keuangan nasional juga dipastikan tetap terjaga, meskipun fungsi intermediasi perbankan masih perlu didorong. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) perbankan April 2021 tetap tinggi sebesar 24,21 persen, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan / NPL) tetap terjaga, yakni 3,22 persen (bruto) dan 1,06 persen (neto).


“Di tengah kondisi likuiditas yang tetap longgar, intermediasi perbankan menunjukkan perbaikan meskipun masih mengalami kontraksi sebesar -1,28 persen (yoy) pada Mei 2021,” pungkasnya.

Check Also

Task Force Energy, Sustainability & Climate B 20 Gerak Cepat Sukseskan G20

Marketnews.id Dalam rangka memperkuat peran Indonesia sebagai Presidensi Group of Twenty (G20), The Business 20 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *