Home / Korporasi / BUMN / Ini Restrukturisasi Usaha PT Garuda Indonesia Tbk Agar Keluar Dari Krisis Keuangan

Ini Restrukturisasi Usaha PT Garuda Indonesia Tbk Agar Keluar Dari Krisis Keuangan

Marketnews.id Lebih baik terlambat dari pada tidak melakukan apapun. Prinsip ini diambil oleh manajemen PT Garuda Indonesia Tbk dalam menghadapi masalah keuangan serius akibat terpapar pendemi Covid-19.

Langkah yang dilakukan oleh manajemen PT GIAA, dapat dikatakan terlambat bila dibandingkan dengan langkah yang dilakukan oleh maskapai penerbangan dunia lainnya. Padahal, akhir tahun lalu, maskapai pembawa bendera negara ini telah mendapat dana talangan dari Pemerintah sekitar Rp 7,5 triliun. Suntikan dana diatas tampaknya tidak dapat menolong banyak perusahaan yang akhirnya harus melakukan pengembalian pesawat sewaan hingga melakukan pengurangan karyawan lewat program pensiun dini.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) perlu merestrukturisasi bisnisnya sepenuhnya, berpotensi mengurangi jumlah pesawat yang dioperasikan hingga kurang dari setengah armada utamanya, agar mampu bertahan dari krisis akibat pandemi.


“Kami harus melalui restrukturisasi yang komprehensif, secara total satu,” kata Presiden Direktur GIAA Irfan Setiaputra dalam rekaman pidatonya di depan para staf Garuda, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (22/5). “Kita memiliki 142 pesawat dan perhitungan awal tentang bagaimana kita melihat pemulihan ini berjalan, kita akan beroperasi dengan jumlah pesawat tidak lebih dari 70.”


Komentar tersebut merujuk pada armada maskapai layanan penuh Garuda, tidak termasuk maskapai bertarif rendah Citilink. Garuda sudah beroperasi dengan mengurangi kapasitasnya dengan hanya 41 pesawat. Garuda tidak dapat menerbangkan pesawat lainnya karena belum melakukan pembayaran kepada  lessor  selama berbulan-bulan, kata Irfan.


Krisis Covid-19 telah memaksa puluhan maskapai penerbangan dan bisnis penerbangan lainnya termasuk Thai Airways International Pcl, Latam Airlines Group SA dan  lessor  AeroCentury Corp. untuk merestrukturisasi atau mengupayakan perlindungan dari kebangkrutan. Beberapa sumber Bloomberg mengatakan Philippine Airlines Inc. Juga sedang dalam pembicaraan untuk mengumpulkan sekitar USD500 juta sebagai bagian dari rencana restrukturisasi yang sedang dipertimbangkan untuk diajukan di AS.


Dalam pidatonya, Irfaan juga mengatakan bahwa Garuda memiliki utang sekitar Rp70 triliun (USD4,9 miliar) yang meningkat lebih dari Rp1 triliun setiap bulan karena terus menunda pembayaran kepada pemasok pesawat.
Perusahaan memiliki arus kas negatif dan ekuitas minus Rp41 triliun rupiah, menurut Irfan. Kegagalan menjalankan program restrukturisasi, “dapat mengakibatkan perusahaan dihentikan secara tiba-tiba,” kata Irfan dalam pidato 19 Mei lalu..
Namun Irfan dan departemen komunikasi korporat Garuda tidak berkomentar saat dihubungi Bloomberg terkait pidato tersebut.


Meskipun perjalanan udara di beberapa negara mulai pulih saat peluncuran vaksinasi semakin cepat. Namun karena virus bermutasi, sejumlah negara mengambil pendekatan berbeda dalam membuka perbatasan. Asosiasi Transportasi Udara Internasional telah memperingatkan operator secara global akan kehilangan sekitar USD48 miliar pada tahun 2021 di tengah kemunduran dalam memulai kembali perjalanan.


Kekhawatiran bahwa efek pandemi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan semula, telah terlihat dalam perdagangan sekuritas keuangan maskapai penerbangan. Harga sukuk Garuda senilai USD500 juta telah turun sekitar 7 sen selama sebulan terakhir menjadi 81, terendah sejak Januari. Maskapai ini mendapat persetujuan dari investor Juni lalu untuk memperpanjang pembayaran utang itu selama tiga tahun.


Melalui pesan teks yang diterima Bloomberg, Irfan mengatakan bahwa Garuda sedang dalam tahap awal menawarkan program pensiun dini bagi karyawan sebagai bagian dari langkah pemotongan biaya. Laporan terbaru menyebutkan, grup tersebut memiliki 15.368 karyawan dan mengoperasikan 210 pesawat pada September.


Volume penumpang grup Garuda anjlok 66% tahun lalu karena pembatasan pergerakan sosial dan permintaan domestik yang terbatas. Pada pertengahan 2020, maskapai itu telah merumahkan sekitar 825 staf setelah sebelumnya memotong gaji.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *