Home / Korporasi / BUMN / Hingga Semester I 2020, Garuda Indonesia Tbk Rugi Rp10 Triliun

Hingga Semester I 2020, Garuda Indonesia Tbk Rugi Rp10 Triliun

Marketnews.id Anjloknya kinerja PT Garuda Indonesia Tbk, sudah diduga banyak pihak. Apalagi sebelumnya, pada tgl 27 Juli lalu, Garuda tidak mampu membayar kewajiban amortisasi kedua Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset Mandiri GIAA01 senilai Rp 360 miliar.

Seperti diketahui, emiten BUMN penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) membukukan penurunan kinerja pada semester I/2020.

Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2020, manajemen Garuda Indonesia menyampaikan total pendapatan usaha perseroan sebesar US$917,28 juta. Nilai itu anjlok 58,18 persen year on year (yoy) dari sebelumnya US$2,19 miliar.

Kurs jisdor pada 30 Juni 2020 dipatok di level Rp14.302 per dolar AS. Artinya, Garuda Indonesia membukukan pendapatan Rp13,12 triliun.


Beban usaha perseroan berkurang menjadi US$1,64 miliar per Juni 2020 dibandingkan sebelumnya US$2,11 miliar. Namun, Garuda membukukan rugi usaha US$707,22 juta, berbalik dari laba usaha senilai US$81,98 juta.

Garuda Indonesia membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$712,73 juta, atau setara dengan Rp10,19 triliun. Nilai itu berbalik dari laba bersih US$24,11 juta per Juni 2019.

Perusahaan menyalurkan kas bersih untuk investasi sebesar US$48,86 juta dari sebelumnya US$70,31 juta. Kas dan setara kas akhir periode senilai US$165,41 juta, berkurang dari US$321,73 juta.


Sayangnya, liabilitas Garuda Indonesia membengkak menjadi US$10,37 miliar dari US$3,73 miliar pada akhir 2019. Liabilitas jangka pendek US$4,4 miliar per Juni 2020, naik dari sebelumnya US$3,26 miliar.

Ekuitas perseroan pun negatif US$80,77 juta, dibandingkan ekuitas positif US$720 juta pada akhir 2019. Total aset Garuda Indonesia senilai US$10,28 miliar, naik dari sebelumnya US$4,45 miliar.

Terus menurunnya kinerja perusahaan penerbangan pembawa bendera nasional ini memang mengkhawatirkan. Apalagi hingga akhir tahun ini utang jatuh tempo juga tidak sedikit. Harapan manajemen tergantung dari dana talangan Pemerintah yang direncanakan akan digelontorkan sebesar Rp8,5 triliun.

Menilik kebelakang. Kinerja positif emiten penerbangan ini dapat dihitung dengan jari. Selebihnya, kinerja emiten ini sering dirundung kerugian dan konflik manajemen. Buat orang awam, kinerja Garuda Indonesia sering rundung masalah dan kerugian. Ujungnya, Pemerintah juga yang harus menanggulangi utang tersebut.

Check Also

Laba Bersih HM Sampoerna Anjlok 17,9 Persen Jadi Rp 6,65 Triliun Di 2024

MarketNews.id-Sepanjang 2024, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mampu tingkatkan pendapatan sebesar 1,64 persen jadi Rp117, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *