Home / Otoritas / Bank Indonesia / Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Negatif

Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Negatif

Marketnews.id Sedia payung sebelum hujan. Inilah yang dilakukan Pemerintah untuk antisipasi terus melemahnya ekonomi nasional. Sudah diprediksi, kuartal kedua tahun ini pertumbuhan negatif. Untuk itu, Pemerintahpun berupaya agar kuartal selanjutnya pertumbuhan bisa kembali positif.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Airlangga Hartarto mengatakan , perekonomian Indonesia pada kuartal II/2020 akan mengalami pertumbuhan negatif.

Hal itu terjadi akibat wabah virus Corona (Covid-19) yang telah berdampak signifikan pada aktivitas ekonomi di dalam negeri.

“[Pertumbuhan ekonomi] kuartal II/2020 akan masuk negatif. Kita harus jaga agar kuartal III dan IV bisa start, we can’t afford [pertumbuhan] negatif terlalu dalam,” katanya saat diskusi virtual dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dengan tema ‘Menavigasi New Normal’, Selasa (9/8/2020).


Ketua Umum Partai Golkar tersebut mengatakan situasi ketidakpastian tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Dia menuturkan Dana Moneter Internasional (IMF) telah memberikan proyeksi sebagian besar negara-negara di dunia akan mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif.

Lebih lanjut, IMF meramal hanya ada tiga negara, yaitu China, India, dan Indonesia yang akan tumbuh positif hingga akhir 2020.

Beberapa lembaga keuangan global, seperti IMF dan Bank Dunia memprediksi angka produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya tumbuh 0 persen hingga 0,5 persen akibat pandemi Covid-19.


“Pemerintah mendorong pertumbuhan bisa 0,5-2,3 persen hingga akhir 2020. Kuartal I/2020 kita tumbuh 2,97 persen. Negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand perlu diperhatikan,” ujar Airlangga.

Menurutnya, semakin lambat ekonomi pulih (recovery) maka jumlah tenaga kerja yang menganggur akan semakin banyak.

Berdasarkan data Kemeko Perekonomian, jumlah pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja atau di-PHK dan dirumahkan sementara ini tercatat 1,8 juta orang. Sementara itu, ada 1,2 juta tenaga kerja informal yang statusnya belum terverifikasi.

“Dengan demikian, ada 7 juta orang yang belum bisa masuk ke lapangan kerja. Ini masalah serius sekali,” imbuhnya.

Check Also

BEI Siap Catatkan Dua Emiten Baru Di Awal Perdagangan Pasca Libur Lebaran 2024

MarketNews.id Awal perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa 16 April 2024 akan berbarengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *