Home / Korporasi / BUMN / Buyback Saham, Wacana atau Basa Basi ?

Buyback Saham, Wacana atau Basa Basi ?

Marketnews.id Berguguran nya harga saham sejak awal tahun 2020 telah membangkitkan semangat bersama untuk membeli kembali saham yang harganya sudah jatuh terlalu dalam. Bahkan ada beberapa emiten harga sahamnya jatuh hingga 40 sampai 50 persen. Tentunya keadaan ini membuat emiten tidak nyaman buat perusahaan yang memiliki kinerja baik. Akhirnya, kuat diduga jatuhnya harga saham hanya faktor persepsi atau sentimen negatif pemodal atau investor terhadap suatu saham.
Otoritas pun mendukung dengan membuat aturan yang memungkinkan emiten melakukan buyback tanpa harus melakukan RUPS terlebih dahulu. Dan emiten milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) jadi pelopor untuk melakukan aksi ini.

Emiten tambang pelat merah PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mengaku belum merealisasikan buyback saham.

SVP Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengatakan, perseroan masih akan terus memonitor perkembangan kondisi pasar sebelum akhirnya melakukan aksi buyback.

“Secara ketentuan, Antam masih memiliki waktu tiga bulan sejak keterbukaan informasi dilakukan untuk menggelar buyback,” ujar Kunto.

Untuk diketahui, ANTM menyiapkan dana sebesar Rp100 miliar yang berasal dari kas internal untuk menggelar aksi korporasi tersebut. Periode pembelian kembali saham itu pun berlaku pada 17 Maret 2020 hingga 16 Juni 2020.

Pada perdagangan Jumat (24/4/2020), saham ANTM berada di level Rp494, terkoreksi 0,8 persen atau 4 poin. Secara year to date, saham ANTM telah turun 41,19 persen. Pada akhir Maret 2020, saham ANTM sempat anjlok ke level Rp374, level terendah sejak Maret 2016.

Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan bahwa total realisasi buyback telah mencapai Rp876,09 miliar hingga, Kamis (23/4/2020). Dari total 65 perusahaan yang merencanakan buyback, baru sekitar 64,6 persen yang telah merealisasikan aksi korporasi itu.

Inarno menjelaskan total realisasi buyback oleh BUMN baru senilai Rp181,63 miliar dari total rencana Rp10,15 triliun. Selanjutnya, realisasi dari non-BUMN mencapai Rp694,46 miliar hingga 23 April 2020.

Adapun, BEI mencatat total rencana buyback yang sudah masuk senilai Rp19,13 triliun yang terdiri atas 12 perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) dan 53 non BUMN.

Sementara itu emiten tambang PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), telah merealisasikan pembelian kembali saham atau aksi buyback tanpa rapat umum pemegang saham (RUPS) senilai Rp10,7 miliar.

Sekretaris Bukit Asam Hadis Surya mengatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan aksi buyback itu sejak 27 Maret 2020 seiring dengan penurunan harga saham akibat perburukan sentimen global.

“Sejauh ini sudah Rp10,7 miliar dana yang kami gunakan,” ujar Hadis.

Adapun, emiten tambang berpelat merah itu mengalokasikan dana senilai Rp300 miliar untuk menggelar aksi buyback saham dengan periode pembelian saham mulai dari 17 Maret 2020 hingga 16 Juni 2020.

Pada akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (24/4/2020), saham PTBA parkir di level Rp1.850 terkoreksi 2,12 persen atau 40 poin. Sepanjang tahun berjalan 2020, saham PTBA telah turun sebesar 30,45 persen. Pada akhir Maret 2020, saham PTBA sempat anjlok ke level Rp1.800, level terendah sejak Juli 2016.

Mencermati langkah buyback yang telah berlangsung hingga saat ini, realisasinya baru sekitar 10 persen dari rencana awal dibuat. Bila mencermati data yang di rilis oleh BEI, tampak emiten BUMN khususnya belum memanfaat momen dan kesempatan untuk membeli kembali sahamnya yang sudah jatuh.

Lambanya aksi korporasi dari emiten BUMN ini, menimbulkan banyak spekulasi. Bisa disebabkan emiten masih menunggu harga sahamnya lebih rendah lagi. Atau bisa jadi dana yang sebelumnya disiapkan untuk buyback telah dialokasikan buat kepentingan lain. Apalagi pendemi covid-19 masih terberlangsung dan belum ada yang tahu kapan akan berakhir. Wajar saja bila emiten BUMN kembali posisi wait and see.

Check Also

Bisnis PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) Tetap Jalan, Meski Direksi Jadi Tersangka

MarketNews.id Perjalanan bisnis suatu perusahaan penuh dengan gejolak dan tantangan. Apalagi buat perusahaan publik. Segala …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *