Home / Korporasi / Emiten / Agribisnis Dan Otomotif Penyebab Anjloknya Laba Astra Int Di Kuartal III 2019

Agribisnis Dan Otomotif Penyebab Anjloknya Laba Astra Int Di Kuartal III 2019

Marketnews.id Lemahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu penyebab turunnya kinerja keuangan suatu perusahaan. PT Astra International Tbk. per kuartal III/2019 laba yang diperoleh terkoreksi 7% secara tahunan yang diakibatkan oleh lesunya bisnis agribisnis dan otomotif. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan pada Kamis (31/10/2019), emiten berkode saham ASII tersebut mencatatkan pendapatan senilai Rp177,04 triliun, tumbuh tipis 1,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp174,88 triliun. Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto menjelaskan, pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada periode tersebut dikontribusikan oleh peningkatan pendapatan dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, divisi jasa keuangan, serta divisi infrastruktur dan logistik. Kenaikan tersebut lebih besar dari penurunan pada divisi otomotif dan agribisnis. Di sisi profitabilitas, ASII mengantongi laba bersih per September 2019 senilai Rp15,86 triliun. Hasil tersebut terkoreksi 7% dibandingkan dengan laba bersih per September 2018 senilai Rp17,07 triliun. Pada periode Januari-September 2019, divisi otomotif mencatatkan laba senilai Rp6,06 triliun, terkoreksi 14% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp7,01 triliun. Sementara itu divisi agribisnis mencatatkan laba senilai Rp86 miliar, terkoreksi 90% dibandingkan per September 2018 senilai Rp896 miliar. Di sisi lain, divisi jasa keuangan mencatatkan laba bersih senilai Rp4,3 triliun, tumbuh 25% dibandingkan dengan Januari 2018–September 2018 senilai Rp3,45 triliun. Sementara itu, divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi mencatatkan laba senilai Rp5,14 triliun. Realiasi tersebut terkoreksi 5% dibandingkan dengan catatan per kuartal III/2018 senilai Rp5,42 triliun. “Turunnya laba bersih Grup pada 9 bulan pertama tahun 2019, disebabkan oleh penurunan kontribusi dari divisi otomotif dan agribisnis, yang mana penurunan tersebut lebih besar daripada peningkatan kontribusi dari divisi jasa keuangan,” katanya dalam siaran pers yang dikutip Kamis (31/10/2019). Laba bersih dari divisi otomotif mengalami penurunan terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil, meningkatnya biaya-biaya produksi serta efek dari translasi nilai tukar mata uang asing. Dalam 9 bulan pertama 2019, lanjutnya, penjualan mobil Grup Astra turun 7% menjadi 396.000 unit. Hal itu sejalan dengan penjualan mobil secara nasional yang turun 12% menjadi 754.000 unit. Prijono menambahkan, turunnya laba bersih ASII dari divisi agribisnis disebabkan oleh penurunan harga minyak kelapa sawit. Harga rata-rata minyak kelapa sawit melemah sebesar 16% menjadi Rp6.449 per kilogram. Saat harga CPO melorot, volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya justru meningkat sebesar 10% menjadi 1,7 juta ton. Kontribusi Bank Permata Di sisi lain, peningkatan laba divisi keuangan ASII dikontribusikan oleh portofolio pembiayaan yang lebih besar dan pemulihan kredit bermasalah. PT Bank Permata Tbk. mencatat peningkatan laba bersih sebesar 121% menjadi Rp1,1 triliun, dikontribusikan oleh peningkatan pendapatan dan penurunan biaya provisi, yang disebabkan oleh peningkatan kualitas pinjaman dan pemulihan kredit bermasalah. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) dan bersih (net NPL) membaik menjadi masing-masing 3,3% dan 1,2%, dibandingkan dengan masing-masing sebesar 4,4% dan 1,7% pada akhir tahun 2018. Pada divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi laba bersih grup dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menurun sebesar 5% menjadi Rp5,1 triliun, terutama disebabkan oleh efek translasi nilai tukar mata uang asing, pada tahun lalu terdapat keuntungan translasi nilai tukar mata uang asing yang signifikan. Prijono menjelaskan bahwa jika tidak termasuk translasi nilai tukar mata uang asing, laba bersih akan mengalami sedikit peningkatan, terutama disebabkan oleh kontribusi dari usaha tambang emas baru dan peningkatan volume kontraktor penambangan, yang sebagian diimbangi oleh penurunan penjualan alat berat karena harga batu bara yang turun dan laba bersih bisnis kontraktor umum yang lebih rendah. “Sementara pencapaian kinerja tahunan grup diperkirakan masih akan diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi, tantangan atas konsumsi domestik yang lemah dan harga komoditas yang rendah masih tetap perlu diwaspadai,” ungkapnya. Sementara itu, utang bersih ASII, di luar grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp17,7 triliun pada 30 September 2019, dibandingkan dengan Rp13,0 triliun pada akhir tahun 2018. Hal tersebut disebabkan oleh investasi grup pada jalan tol baru dan Gojek, serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Selain itu, anak perusahaan grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp47,1 triliun pada 30 September 2019, dibandingkan dengan Rp47,7 triliun pada akhir 2018.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *