MarketNews.id-Raine Renaldi, President EV-READY Group, kembali dijadwalkan menjadi salah satu pembicara dalam EV Innovation Summit (EVIS) America 2026 yang berlangsung di Toledo, Ohio, Amerika Serikat, pada 3–5 November 2026.
Raine akan membawa pembahasan mengenai perkembangan mobilitas listrik di Indonesia, termasuk program konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi kendaraan listrik yang dikembangkan melalui EV-GO.
Program tersebut dikembangkan di Bali dengan target jangka panjang konversi hingga 1 juta sepeda motor. Selain konversi kendaraan, program tersebut mencakup pengembangan infrastruktur pendukung seperti jaringan bengkel, baterai dan battery swapping.
EV-GO juga melakukan pengujian kendaraan hasil konversi bersama komunitas pengemudi ojek online. Pengujian dilakukan untuk memperoleh data mengenai penggunaan kendaraan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk performa dan kebutuhan baterai.
“Kita mempunyai kendaraan yang sudah digunakan masyarakat selama bertahun-tahun. Tantangannya adalah bagaimana kendaraan tersebut bisa ditransformasikan menjadi bagian dari ekosistem listrik. Ini yang ingin kita bawa ke dunia,” kata Raine.
Keikutsertaan Raine di EVIS America 2026 merupakan bagian dari keterlibatannya dalam sejumlah forum internasional yang membahas kendaraan listrik dan teknologi.
Sebelumnya, ia tercatat tampil dalam rangkaian EV Innovation Summit di Abu Dhabi serta sejumlah forum teknologi di Dubai, antara lain GITEX Global, Expand North Star dan Future Blockchain Summit.
Dalam pengumuman EVIS, Raine disebut sebagai salah satu pembicara yang membahas sustainable mobility, smart city, dan transformasi kendaraan listrik.
“Ini sebuah kehormatan bagi kita semua. Bukan hanya bagi saya atau EV-READY, tetapi juga bagi Indonesia. Ini menjadi cerminan bahwa Indonesia juga mulai dilirik oleh global,” ujar Raine.
Infrastruktur Jadi Tantangan
Program konversi kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan perubahan sistem penggerak kendaraan. Ketersediaan infrastruktur juga menjadi bagian dari pengembangan program.
EV-GO mengembangkan ekosistem yang mencakup fasilitas konversi, jaringan bengkel, infrastruktur baterai, battery swapping, hingga platform digital.
Dalam sejumlah materi terkait EV-GO, kebutuhan pengembangan infrastruktur disebut dapat mencapai lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp20 triliun, bergantung pada asumsi nilai tukar yang digunakan.
Nilai tersebut merupakan gambaran skala kebutuhan pengembangan ekosistem dan tidak berarti seluruh investasi tersebut telah direalisasikan.
Pernah Disebut “Elon Musk Indonesia”
Nama Raine juga pernah mendapat julukan “Elon Musk Indonesia” dalam sebuah forum Unconference Global di Bali.
Sebutan tersebut bukan gelar resmi. Istilah itu muncul dalam konteks pembahasan mengenai aktivitas Raine di bidang teknologi, kendaraan listrik, ekonomi digital dan inovasi. Sebutan tersebut antara lain dikaitkan dengan komentar Maria Markman, salah satu figur yang hadir dalam forum tersebut.
Sementara itu, EV-READY mengembangkan sejumlah portofolio di bidang mobilitas, termasuk Metro Kapsul, EV-GO, teknologi konversi kendaraan, infrastruktur baterai dan teknologi digital.
Metro Kapsul dikembangkan sebagai konsep transportasi publik elektrik, sedangkan EV-GO berfokus pada konversi kendaraan yang telah digunakan masyarakat.
“EV-READY bukan hanya perusahaan EV. Kami melihat mobility sebagai sebuah ekosistem. Ada public transportation, kendaraan pribadi, conversion, battery infrastructure, sampai AI dan digital technology,” ujar Raine.
Program konversi sepeda motor di Bali akan menjadi salah satu pengalaman yang dibawa Raine dalam forum EVIS America. Program tersebut saat ini dikembangkan sebagai salah satu model implementasi elektrifikasi kendaraan yang telah digunakan masyarakat.
Melalui forum tersebut, Raine dijadwalkan membahas pengalaman Indonesia dalam pengembangan kendaraan listrik, termasuk konversi sepeda motor, infrastruktur baterai dan pengembangan mobilitas listrik.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal