MarketNews.id-Sepanjang semester pertama tahun ini, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) telah berhasil kumpulkan pendapatan Rp10,31 Triliun Naik 7,6 persen. Sedangkan laba bersih perseroan berhasil diraih sebesar Rp1,91 triliun. Sementara EBITDA Alami kenaikan 8,1 persen (yoy) dengan margin 67,8 persen.
PT Jasa Marga mengumumkan, pergeseran strategi ke investasi aset jalan tol yang sudah beroperasi, dengan rencana belanja modal (capex) sekitar Rp 12 triliun pada 2026 tahun, sambil mencatat omzet Rp 10,31 triliun dan laba bersih Rp 1,91 triliun pada semester I.
JSMR memilih fokus pada aset brownfield karena lelang jalan tol baru kini lebih jarang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga peluang nilai tambah dari peningkatan layanan dan tarif pada jaringan yang sudah ada menjadi lebih menjanjikan.
Rencana tersebut didukung oleh evaluasi komprehensif yang menilai setiap peluang investasi harus mampu menambah nilai dan keberlanjutan bisnis, bukan sekadar memperluas jaringan.
Selain itu, beberapa jalan tol milik perusahaan diproyeksikan mulai beroperasi pada akhir 2026 hingga awal 2027, memberi kesempatan untuk mengoptimalkan pendapatan tambahan sebelum proyek baru dibuka.
Dengan mengalihkan modal ke aset yang sudah menghasilkan, Jasa Marga berupaya memperkuat arus kas operasional dan mengurangi ketergantungan pada proyek konstruksi yang menuntut biaya tinggi.
Sele diketahui, (BYAN) melaporkan bahwa belanja modal sebesar Rp 12 triliun diperkirakan akan diarahkan pada peningkatan kapasitas, perbaikan infrastruktur, dan integrasi teknologi pada jaringan existing, yang pada gilirannya dapat mendongkrak pendapatan tol dan layanan pendukung.
Peningkatan non-construction revenue yang tercatat 7,6% menjadi Rp 10,31 triliun pada semester I menunjukkan bahwa strategi ini sudah mulai berkontribusi pada pertumbuhan top-line.
Selanjutnya, peningkatan EBITDA sebesar 8,1% menjadi Rp 6,99 triliun menandakan margin operasional tetap sehat meski investasi besar dilakukan, karena sebagian besar capex diharapkan menghasilkan arus kas tambahan dalam jangka menengah.
Dengan profitabilitas yang terjaga, perusahaan dapat menutup biaya investasi tanpa menurunkan likuiditas, memperkuat posisi finansial untuk melanjutkan agenda investasi strategis.
Apa Implikasi Kinerja Keuangan Semester I 2026 Terhadap Nilai Saham dan Risiko Utang?
Data dari BEI menunjukkan bahwa laba bersih Rp 1,91 triliun dan EBITDA margin 67,8% memberi sinyal kuat bagi investor, tercermin dari kenaikan harga saham Jasa Marga menjadi Rp 3.020, naik 8,24% dalam sebulan terakhir.
Namun, rasio price-to-book value (PBV) masih berada di level 0,59 kali, menandakan bahwa pasar menilai nilai buku perusahaan relatif tinggi dibandingkan harga saham, sementara price-to-earnings ratio (PER) berada pada 5,74 kali, menunjukkan valuasi yang masih terjangkau.
Pada sisi risiko, gearing 1,2 kali dan interest coverage ratio 3,9 kali menandakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban bunga tanpa menekan ruang investasi, sehingga profil utang tetap prudent meski capex meningkat.
Kombinasi profitabilitas yang stabil, valuasi moderat, dan profil utang terkendali memberi dukungan bagi prospek nilai saham jangka menengah.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal