Home / Corporate Action / Ledakan IPO Bisa Menjadi Sinyal Bahaya Bagi Pasar Saham

Ledakan IPO Bisa Menjadi Sinyal Bahaya Bagi Pasar Saham

MarketNews.id-Anomali terjadi di Bursa Saham Hongkong. Antrian Emiten Baru yang mencapai 104 emiten baru tercatat, ternyata tidak diikuti maraknya perdagangan saham di pasar sekunder.

IPO Di Bursa Hongkong mencatat ada 104 emiten baru dalam tujuh bulan terakhir dengan menghimpun dana sekitar USD42 Miliar. Sementara di pasar sekunder justru terjadi penurunan indeks hingga 1 Persen sepanjang tahun ini.

Fenomena menarik tengah terjadi di pasar saham Hong Kong. Di satu sisi, pasar penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) sedang menikmati masa yang sangat kuat.

Namun di sisi lain, pasar sekunder–tempat saham-saham yang sudah tercatat diperdagangkan–justru menunjukkan kinerja yang mengecewakan.
Kondisi tersebut mengingatkan pada sensasi mengonsumsi permen TastySounds buatan Amos Food.

Ketika permen diisap, konsumen tidak hanya merasakan rasa manis di lidah, tetapi juga mendengar musik yang ditransmisikan melalui getaran tulang rahang. Sensasi tersebut terasa membingungkan karena dua indera memberikan pengalaman yang berbeda.

Situasi serupa terlihat di bursa Hong Kong. “Pasar primer” sedang terasa manis berkat derasnya IPO, sementara musik di “pasar sekunder” justru terdengar sumbang.

Indeks Hang Seng, yang mencerminkan kinerja perusahaan-perusahaan besar di Hong Kong, telah turun sekitar 1 persen sepanjang tahun ini.

Berdasarkan pemantauan The Economist, kinerja tersebut menjadi yang terburuk kelima di antara bursa-bursa utama dunia.

IPO Hong Kong Melonjak
Hong Kong saat ini menjadi tujuan menarik bagi perusahaan yang ingin mencatatkan saham. Amos Food, produsen permen TastySounds dan berbagai produk makanan manis lainnya, termasuk perusahaan yang tengah mengantre untuk melakukan IPO di bursa tersebut.

Bursa Hong Kong bahkan memberikan sejumlah kemudahan dengan memperpanjang periode bagi perusahaan untuk menyelesaikan dokumen pencatatan serta mengizinkan perusahaan mengajukan dokumen secara rahasia.

Sepanjang tujuh bulan pertama 2026, sebanyak 104 perusahaan melakukan IPO di Hong Kong dengan total dana yang dihimpun sekitar US$42 miliar. Nilai tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Tahun lalu sendiri merupakan periode yang sangat kuat bagi IPO Hong Kong, ketika perusahaan-perusahaan yang melantai berhasil menghimpun dana lebih besar dibandingkan bursa mana pun di dunia. Hong Kong juga menjadi alternatif bagi Shein, perusahaan ritel fast-fashion, yang resmi mencatatkan saham pada 31 Agustus.

Kekhawatiran geopolitik sebelumnya membuat perusahaan tersebut menghadapi hambatan untuk melakukan pencatatan di New York maupun London.
Namun, derasnya IPO tersebut tidak serta-merta mencerminkan kondisi pasar saham secara keseluruhan.

Dalam pasar barang biasa, lonjakan penjualan produk baru umumnya dianggap sebagai sinyal positif. Jika banyak orang membeli mobil baru dengan harga yang sehat, misalnya, tidak ada alasan untuk khawatir ketika harga mobil bekas stagnan atau menurun.

Namun, pasar saham memiliki karakter berbeda. Nilai transaksi di pasar sekunder jauh lebih besar dibandingkan pasar IPO. Karena itu, kesenjangan antara maraknya IPO dan lemahnya perdagangan saham yang sudah tercatat justru menjadi sinyal yang perlu diperhatikan.

Sebagian fenomena tersebut memiliki karakteristik khusus China. Regulator di China daratan memperketat aturan terkait penawaran saham di bursa Shanghai dan Shenzhen. Akibatnya, sejumlah perusahaan China memilih Hong Kong sebagai alternatif untuk memperoleh pendanaan.

Ketegangan hubungan China dan Amerika Serikat juga mendorong sejumlah perusahaan China yang sudah tercatat di bursa AS untuk mencari pencatatan sekunder di Hong Kong.

Banjir emiten tersebut berpotensi membuat permintaan investor terhadap saham-saham lain menjadi lebih terbagi. Dengan kata lain, pasar Hong Kong seperti mengalami “kekenyangan” setelah terlalu banyak mengonsumsi permen.

“Fenomena ini juga bukan sesuatu yang baru. Studi Malcolm Baker dari Harvard dan Jeffrey Wurgler, yang saat itu berada di Yale, terhadap pasar saham Amerika Serikat pada 1928-1997 menemukan bahwa perusahaan cenderung menerbitkan saham lebih banyak sebelum periode ketika imbal hasil pasar berada pada level rendah.

Penelitian Lubos Pastor dan Pietro Veronesi dari University of Chicago pada 2005 juga menemukan pola serupa: gelombang IPO cenderung muncul setelah periode kinerja pasar yang baik dan mendahului periode kinerja yang buruk.

Valuasi Tinggi Mendorong Perusahaan Melantai

Pola tersebut terlihat pula di Hong Kong. Ledakan IPO saat ini bermula setelah reli besar di pasar saham. Indeks Hang Seng melonjak lebih dari 40% dalam setahun setelah pemerintah China mengumumkan stimulus moneter baru pada September 2024.

Yang membuat kondisi sekarang berbeda adalah pelemahan pasar sekunder terjadi sebelum gelombang IPO tersebut berakhir.

Sejumlah akademisi menilai fenomena ini mungkin mencerminkan perilaku pasar yang tidak rasional. Pemilik perusahaan dapat memilih menjual saham ketika mengetahui valuasi perusahaannya sudah terlalu tinggi, sementara investor eksternal belum menyadarinya.

Namun, Pastor dan Veronesi memiliki pandangan berbeda. Menurut mereka, keputusan perusahaan untuk melantai di bursa dapat sepenuhnya rasional.
Keputusan IPO dibuat dalam kondisi penuh ketidakpastian.

Manajemen perusahaan tidak selalu memiliki informasi lebih baik dibandingkan pasar mengenai kondisi masa depan, sementara keputusan untuk menjadi perusahaan publik juga sulit dibatalkan.

Karena pasar saham selalu berfluktuasi, perusahaan memiliki alasan untuk menunda IPO ketika kondisi sedang buruk dengan harapan situasi membaik. Penundaan tersebut memiliki apa yang disebut ekonom sebagai “option value”.

Akibatnya, banyak perusahaan memilih melakukan IPO setelah valuasi membaik, tetapi jauh sebelum valuasi mencapai titik puncaknya.

Investor IPO Masih Menikmati Keuntungan Awal

Lantas, apa artinya bagi investor Hong Kong?
Meskipun pasar sekunder sedang menghadapi tekanan, saham-saham pendatang baru umumnya masih menunjukkan performa cukup baik pada hari-hari awal perdagangan.

Bahkan saham Shein, yang menghadapi berbagai tantangan sebelum IPO, mengakhiri hari pertama perdagangannya kurang lebih di level yang sama dengan harga pembukaannya.

Bagi investor yang berhasil mendapatkan alokasi saham dalam IPO mendatang, situasinya masih bisa terasa manis. Mereka berpotensi mendapatkan tiga sensasi sekaligus: rasa manis di lidah, irama musik di telinga, dan keuntungan yang masuk ke kantong.

Namun, bagi pasar secara keseluruhan, ledakan IPO yang terjadi bersamaan dengan lemahnya pasar sekunder patut menjadi sinyal yang perlu dicermati.(Businesstimes.com.sg)

Check Also

Anak Usaha TPIA, Buka Jasa Pelabuhan Untuk Umum Dengan Kapasitas 80.000 DWT

MarketNews.id-Optimalisasi aset. Inilah yang dilakukan oleh PT Chandra Pelabuhan Nusantara (CPN) anak usaha dari PT …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *