MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan terakhir Agustus 2026, Jumat (28/8), dengan membukukan pelemahan IHSG sebesar 0,06% di posisi 6.518, juga lebih rendah dibanidng penutupan akhir pekan sebelumnya di posisi 6.526.
Sementara investor asing mencatatkan arus keluar ekuitas senilai USD43 juta dalam sepekan terakhir.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat, sektor yang paling tertinggal sepanjang pekan adalah sektor Teknologi serta Transportasi & Logistik yang masing-masing melorot -1,95% dan -1,89%.
Sementara itu, sektor yang berkinerja baik adalah sektor Basic Materials dan Consumer Cyclicals yang masing-masing naik +1,76% dan +1,11%.
Sedangkan pasar dengan performa terbaik pekan ini adalah Bitcoin (+2,50%) dan Indeks Nasdaq (+1,38%), di sisi lain terjadi koreksi pada harga Minyak Mentah (-5,19%) dan CPO (-3,57%).
Di dalam negeri, jumlah uang beredar luas Indonesia tumbuh 8,3% YoY pada Juli, melambat dari 8,7%. “Hal ini patut diperhatikan bersamaan dengan penyaluran kredit perbankan yang meningkat menjadi 13,58% pada bulan yang sama, karena kredit yang tumbuh lebih cepat daripada jumlah uang beredar menunjukkan kondisi likuiditas yang sedikit lebih ketat dalam sistem perbankan dan membantu menjelaskan penempatan dana pemerintah baru-baru ini pada bank-bank BUMN ,” papar Ashmore.
Imbal Hasil Turun dan Rupiah Menguat
Ashmore menggarisbawahi, pekan ini, harga minyak turun tajam seiring munculnya kemajuan diplomatik nyata di sekitar Selat Hormuz, biaya pinjaman jangka panjang AS kembali turun dari level tertinggi yang dicapai pada pertengahan Agustus, dan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia turun ke sekitar 7%, level terendah dalam beberapa bulan.
Rupiah menguat hingga di bawah 17.700. Ekuitas menjadi pengecualian, berakhir relatif datar di 6.518, dengan rebalancing MSCI yang akan berlaku pada akhir bulan.
Sementara itu, Parlemen menggelar uji kelayakan untuk Destry Damayanti sebagai satu-satunya calon Gubernur Bank Indonesia. Investor mencermati pandangannya mengenai inflasi, stabilitas nilai tukar dan bagaimana ia bermaksud menarik kembali modal asing ke aset-aset Indonesia.
“Konfirmasi tersebut akan menyelesaikan transisi yang dimulai dengan kepergian gubernur sebelumnya bulan lalu dan menghilangkan sumber ketidakpastian yang telah membayangi pasar sejak saat itu,” imbuh Ashmore.
Untuk obligasi Indonesia, Ashmore mencatat, imbal hasil tenor 10 tahun telah turun dari di atas 7,3 persen pada akhir Juli menjadi sekitar 7 persen, terbantu oleh harga minyak yang lebih rendah, rupiah yang lebih kuat, penurunan imbal hasil AS dan kejelasan yang lebih besar mengenai kepemimpinan bank sentral.
Ashmore menilai, kondisi tersebut, merupakan pergerakan yang berarti dan memberikan imbal hasil bagi investor yang mempertahankan posisi di pasar selama semester pertama yang sulit.
Imbal hasil pada level ini masih menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan, meskipun bagian termudah dari pergerakan tersebut mungkin sudah terlewati.
Untuk ekuitas Indonesia, Ashmore menilai, kondisi harga minyak yang lebih murah dan imbal hasil yang lebih rendah memberikan dukungan. Di seluruh emerging market , saham-saham Asia secara umum menguat karena perkembangan di Timur Tengah dan penurunan imbal hasil AS.
Di pasar global EM Sukuk, Ashmore berpendapat, meredanya ketegangan meningkatkan sentimen risiko regional dan dapat membantu menghidupkan kembali penerbitan setelah tahun yang lambat, meskipun harga minyak yang lebih rendah mengurangi pendapatan yang menopang penerbit di kawasan Teluk.
Menurut Ashmore, secara keseluruhan, ini merupakan pekan ketiga beberapa tekanan yang telah membebani aset Indonesia sejak Maret mereda sekaligus.
Kehati-hatian masih diperlukan, karena Selat tersebut belum terbuka, posisi fiskal AS tetap menjadi sumber ketidaknyamanan di pasar obligasi, dan perubahan MSCI belum sepenuhnya berdampak.
Pendekatan kami tidak berubah, dengan mengutamakan perusahaan yang likuid, transparan, dan memiliki fundamental kuat, bersama dengan obligasi berkualitas baik yang menawarkan pendapatan yang dapat diandalkan, yang tersebar di berbagai wilayah dan kelas aset,” sebut Ashmore.
“Hal-hal utama yang perlu diperhatikan adalah respons terhadap pidato Jackson Hole, kelanjutan pembicaraan teknis Iran dan Oman, konfirmasi parlemen terhadap gubernur bank sentral, perubahan MSCI yang mulai berlaku pada Senin, dan data inflasi Indonesia bulan Agustus yang akan dirilis awal pekan depan.” (Ashmore)
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal