MarketNews.id-Bank Mandiri mempertahankan proyeksi inflasi Indonesia hingga akhir 2026 mencapai 3,53 persen (yoy). Inflasi berpotensi meningkat kembali akibat berakhirnya musim panen, risiko El Nino, pelemahan rupiah hingga tingginya harga Minyak Dunia.
Pada Juli lalu, terjadi deflasi 0,14 persen berdampak menurunkan inflasi tahunan menjadi 2,88% yoy, didorong turunnya harga pangan dan BBM nonsubsidi.
Office of Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menilai tekanan inflasi Indonesia kembali mereda pada Juli 2026, seiring tercatatnya deflasi bulanan sebesar 0,14% (month to month/mom), berbalik dari inflasi 0,44% pada Juni 2026.
Kondisi tersebut menurunkan inflasi tahunan menjadi 2,88% (year on year/yoy), sementara inflasi kumulatif Januari-Juli 2026 tercatat 1,65% (year to date/ytd).
Dalam kajian Daily Economic and Market Review edisi 5 Agustus 2026 yang diunggah di situs resmi perseroan, Rabu 5 Agustus 2026 Bank Mandiri menjelaskan bahwa deflasi terutama dipicu oleh penurunan harga komoditas pangan bergejolak, khususnya bawang merah dan cabai merah, seiring membaiknya pasokan selama musim panen.
Di sisi lain, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah juga melambat setelah penurunan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, sementara inflasi inti turun menjadi 0,14% (mom) meski masih mendapat tekanan musiman dari biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru.
Meski demikian, BMRI mengingatkan bahwa pelemahan inflasi pada Juli diperkirakan hanya bersifat sementara. Berakhirnya musim panen berpotensi mendorong normalisasi harga pangan dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, meningkatnya risiko El Nio diperkirakan dapat mengganggu produksi dan distribusi komoditas hortikultura sehingga memicu kenaikan harga pangan.
Risiko inflasi juga dapat berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah serta masih tingginya harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan biaya impor, distribusi, energi, dan harga barang domestik.
Bank Mandiri menilai kondisi inflasi saat ini masih memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap memprioritaskan stabilisasi nilai tukar.
Namun, dengan mempertimbangkan potensi kenaikan harga pangan, risiko El Nio, pelemahan rupiah, serta tingginya harga energi, BMRI mempertahankan proyeksi inflasi Indonesia pada akhir 2026 sebesar 3,53% yoy.
Kebijakan moneter BI juga diperkirakan tetap berhati-hati dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal