Home / Otoritas / Bank Indonesia / S&P Global Ratings Pertahankan Peringkat Kredit RI Di Level BBB Dengan Prospek Stabil

S&P Global Ratings Pertahankan Peringkat Kredit RI Di Level BBB Dengan Prospek Stabil

MarketNews.id-Lembaga Rating Global S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

Selain itu, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5 persen dalam tiga tahun belum depan dan pada level 5,1 persen di tahun 2026 ini. Proyeksi positif ini ditopang, fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan hilirisasi meski ketidakpastian global masih tinggi.

Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada akhir perdagangan hari ini, di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat di pasar global, karena ditopang sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level layak investasi (investment grade) dengan prospek stabil.

Mengutip data Bloomberg pada Selasa (14/7) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup menguat 18 poin atau 0,10% ke level Rp18.091 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan Senin (13/7) di posisi Rp18.109 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, dari eksternal, indeks dolar AS menguat setelah pelaku pasar mencermati meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Presiden Donald Trump akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah pertukaran militer yang diperbarui dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20% pada kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutupi biaya keamanan.

Militer AS mengatakan akan mulai memberlakukan blokade mulai Selasa, menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran sambil mengizinkan pengiriman komersial netral untuk terus melewati jalur air tersebut,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

Menurut Ibrahim, kekhawatiran pasar semakin meningkat karena konflik berpotensi mengganggu distribusi energi global melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan minyak dunia.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah yang kemudian memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta memberikan tekanan terhadap pasar keuangan.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi Amerika Serikat kembali meningkat.

Gubernur Federal Reserve (Fed) Christopher Waller, yang mengungkapkan bahwa jika Indeks Harga Konsumen (CPI) naik minggu ini, The Fed harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Waller menyatakan bahwa angka inflasi inti yang tinggi ‘akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.’

“Meskipun bersikap hawkish, ia masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target 2% tanpa kenaikan suku bunga dan menyatakan bahwa pasar tenaga kerja lebih dekat dengan target lapangan kerja maksimum The Fed,” ujar Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai penguatan terbatas rupiah ditopang oleh respons positif pasar terhadap keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

“Pasar merespons positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5% setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lembaga pemeringkat ini memprtahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap Stabil,” ungkap Ibrahim.

Ia menambahkan, S&P menilai fundamental ekonomi Indonesia masih didukung prospek pertumbuhan yang kuat, kebijakan makroekonomi yang dinilai prudent, serta beban utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat serupa. Lembaga pemeringkat tersebut juga melihat kebijakan hilirisasi berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan ekspor dalam jangka menengah.


“Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri,” sebut Ibrahim.

Meski demikian, S&P juga mencatat bahwa gejolak pasar keuangan masih menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia.

Kendati pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6% pada kuartal I-2026, pasar saham mengalami tekanan signifikan dan nilai tukar rupiah sempat terdepresiasi sekitar 7% terhadap dolar AS sepanjang semester I-2026.

Check Also

Kejatuhan Indeks Saham, Tertahan Penguatan Saham BREN 4,33 Persen

MarketNews.id-Hari ini perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung sangat dinamis. Saham Perbankan BBCA …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *