Home / Otoritas / Bank Indonesia / Proyeksi IMF Jadi Sentimen Positif Buat Rupiah Menguat, Tapi Belum Menopang IHSG

Proyeksi IMF Jadi Sentimen Positif Buat Rupiah Menguat, Tapi Belum Menopang IHSG

MarketNews.id-Proyeksi IMF terhadap perekonomian Indonesia membuat pelaku usaha ikut optimistik Indonesia masih  tumbuh paling tinggi di tahun ini dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.
Sinyal lain juga tampak dari penjualan mobil nasional di semester I 2026 tumbuh 15,9 persen jadi 436.564 unit.

Sementara ketegangan AS – Iran dan lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi global serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang.

Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir pekan ini, setelah pasar merespons positif proyeksi International Monetary Fund (IMF) yang mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026.

Mengutip data Bloomberg, pada Jumat (10/7) pukul 15.00 WIB, rupiah akhirnya ditutup menguat 63 poin atau 0,35% ke level Rp18.065 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Kamis (9/7) di posisi Rp18.128 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen domestik terhadap rupiah datang dari proyeksi lembaga internasional mengenai prospek perekonomian Indonesia.

“Pasar merespon positif mengenai pernyataan International Monetary Fund mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.

IMF juga memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,1% pada 2027. Proyeksi tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan kelompok negara berkembang di kawasan Asia atau Emerging and Developing Asia yang diperkirakan melambat menjadi 4,8% pada 2026.

Selain IMF, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027. ADB menilai prospek perekonomian Indonesia tetap stabil. Proyeksi untuk 2026 tersebut tidak berubah dibandingkan laporan Asian Development Outlook (ADO) pada April lalu.

Meski demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada tahun ini masih berada di bawah target pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah dan DPR menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.

Dari sisi konsumsi domestik, kenaikan penjualan mobil nasional sepanjang semester I-2026 dinilai belum cukup menjadi bukti bahwa daya beli masyarakat telah pulih sepenuhnya.

Pemulihan konsumsi rumah tangga diperkirakan masih berlangsung secara bertahap meskipun penjualan kendaraan menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales atau distribusi dari pabrikan ke dealer mencapai 77.550 unit pada Juni 2026, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut melanjutkan pertumbuhan 14 persen pada Mei 2026 dan menjadikan Juni sebagai bulan ketiga berturut-turut penjualan mobil mencatatkan pertumbuhan secara tahunan.

Secara kumulatif, penjualan mobil baru sepanjang semester I-2026 mencapai 436.564 unit, atau meningkat 15,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Ibrahim, capaian penjualan kendaraan tersebut menunjukkan permintaan konsumen masih terjaga di tengah tekanan terhadap daya beli.

“Capaian ini mencerminkan permintaan konsumen yang tetap kuat meskipun masyarakat masih menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, dari eksternal, ketidakpastian geopolitik kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lebih lanjut terhadap negara tersebut. Langkah itu memicu tindakan balasan dari Teheran.

Laporan Axios menyebut mediator regional masih berupaya menyelamatkan nota kesepahaman AS-Iran yang dicapai baru-baru ini. Namun, prospek perdamaian di Timur Tengah tetap penuh ketidakpastian.

Pertempuran yang kembali terjadi bertepatan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal setelah tewas pada hari pertama perang, 28 Februari. Pemakaman tersebut menjadi puncak prosesi massal dan demonstrasi selama sepekan.

Konflik juga menunda pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang sebelum perang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global setiap hari.

“Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve,” sebut Ibrahim.

Pasar terus meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada 2026.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63 persen pada pertemuan September mendatang.

Check Also

PHE OSES Mulai Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Offshore Pertama Di Indonesia

MarketNews.id– PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES) resmi memulai implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *