MarketNews.id- Krakatau Steel (KRAS), membukukan peningkatan pendapatan usaha 3,6 persen secara tahunan menjadi USD460,8 juta pada semester I 2025.
Penopangnya, pendapatan sarana infrastruktur naik 33,3 persen secara tahunan menjadi USD104,4juta. Tapi penjualan produk baja menyusut 4,8 persen secara tahunan menjadi USD336,8 juta.
Namun beban pokok pendapatan bengkak 7,5 persen secara tahunan menjadi USD426,8 juta. Dampaknya, laba kotor terpangkas 29,6 persen secara tahunan menjadi USD33,9 juta.
Sayangnya, beban usaha naik 6,03 persen secara tahunan menjadi USD56,2 juta. Akibatnya, rugi usaha kian bengkak secara tahunan menyentuh USD22,3 juta.
Bahkan, rugi sebelum pajak final dan beban pajak penghasilan menukik sedalam 79,3 persen secara tahunan menjadi USD99,9 juta.
Direktur Keuangan KRAS, Daniel Fitzgerald Liman melaporkan rugi bersih USD107,1 juta pada akhir Juni 2025. Kerugian tersebut kian dalam 67,1 persen dibanding akhir Juni 2024 senilai USD64,1 juta.
Rugi tersebut menambah defisit sedalam 4,4 persen dibanding akhir tahun 2024 menyentuh USD2,58 miliar pada akhir Juni 2025. Pada giliran, total ekuitas berkurang 13,3 persen dibanding akhir tahun 2024 menjadi USD377,7 juta pada akhir Juni 2025.
Pada sisi lain, total kewajiban meningkat 3,05 persen dibanding akhir tahun 2024 menjadi USD2,534 miliar pada akhir Juni 2025.
Perlu menjadi perhatian, aset lancar hanya USD630,99 juta, Tapi kewajiban jangka pendek mecapai USD2,306 miliar.
Manajemen KRAS mengakui selisih kewajiban lancar dibanding aset lancar senilai USD1,6 miliar karena saldo pinjaman bank tertentu yang seluruhnya diklasifikasikan menjadi jangka pendek karena pelanggaran persyaratan pinjaman.
Kombinasi hal-hal tersebut di atas menimbulkan keraguan yang signifikan terhadap kemampuan KRAS untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.
Sebenarnya KRAS telah menyusun strategi agar keluar dari kemelut itu mulai dari Grup menyusun skema restrukturisasi lanjutan dalam rangka penyelesaian utang Tranche A, B dan C dengan sumber dana pembayaran yang terdiri dari arus kas operasional, divestasi dan/atau optimalisasi aset, serta aksi korporasi lainnya.
Kemudian Mempercepat proses recovery HSM1 yang saat ini masih dalam tahap uji coba (commissioning) dan ditargetkan selesai pada akhir Mei 2025. Rencana itu telah disetujui kementerian BUMN dengan dukungan keuangan dan operasional.
Namun demikian terdapat ketidakpastian yang material dikarenakan KRAS bergantung pada dukungan dari kreditur dan pemasok yang ada, melalui penundaan pembayaran liabilitas dan kemampuannya untuk memperbaiki kinerja operasional serta kondisi keuangannya.
“Ada kemungkinan beberapa rencana tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh manajemen,” tulis KRAS dalam laporan keuangan semester I 2025 tanpa audit dikutip Sabtu 26 Juli 2025.
Abdul Segara
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal