MarketNews.id PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX), kembali mendapat kepercayaan dari perbankan nasional. Produsen laptop merek Zyrex ini mendapat pinjaman dari Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 373,7 miliar. Pinjaman yang diraih perseroan akan digunakan untuk modal kerja dan pengembangan usaha.
Rinciannya pinjaman dari BMRI adlah, ZYRX menerima perpanjangan fasilitas kredit modal kerja (KMK) sebesar RP247,7 miliar dan tambahan limit fasilitas KMK seasonal sebesar Rp130 miliar dari BMRI.
“Perseroan akan memperoleh fasilitas kredit dari Bank Mandiri dengan nilai total Rp373,66 miliar,” ujar Sekretaris Perusahaan ZYRX Evan Jordan dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat 29 September 2023.
Evan menyampaikan, penandatanganan perjanjian kredit dan pemberian jaminan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun pembayaran biaya administrasi, fee, biaya bunga, dan angsuran terkait dengan fasilitas kredit yang diterima perseroan telah sesuai ketentuan dalam perjanjian.
Berdasarkan catatan, ZYRX pada Oktober 2022 juga mendapatkan fasilitas pinjaman senilai Rp350 miliar dari Bank Mandiri dan PT Bank BTPN Tbk. (BTPN). Rinciannya, pinjaman Rp243,7 miliar dari BMRI dan US$7 juta atau setara Rp106,7 miliar bersumber dari BTPN.
ZYRX mencatat raihan penjualan sebesar Rp154,27 miliar atau melesat 42,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp107,92 miliar.
Pada saat bersamaan, beban pokok pendapatan tergerus 26 persen year-on-year (YoY), atau dari Rp707,22 miliar menjadi Rp523,37 miliar. Dengan demikian, laba kotor yang diakumulasikan sepanjang paruh pertama tahun ini mencapai Rp32,18 miliar, naik 51,75 persen YoY.
Namun, setelah diakumulasikan dengan pendapatan dan beban lainnya, laba periode berjalan yang dihimpun perseroan melemah 50,16 persen menjadi Rp4,044 miliar. Hal ini salah satunya disebabkan oleh beban keuangan yang naik 161,05 persen menjadi Rp7,55 miliar.
Dari sisi pendapatan, emiten laptop ini alami peningkatan signifikan. Tapi dari sisi beban usaha, perseroan juga alami peningkatan signifikan dan berdampak pada melemahnya laba periode berjalan hingga lebih 50,16 persen.