MarketNews.id- Wacana mengenai kebangkitan industri otomotif nasional kembali menghangat di ruang publik. Mengomentari peluang Indonesia di sektor kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV), pernyataan bernada optimis sempat dilontarkan oleh Ketua Umum Periklindo, Moeldoko.
Ia mengklaim, bahwa Indonesia sama sekali belum tertinggal dalam perlombaan ini.
“Nggak, belum telat (bikin molinas dan mobnas). Karena teknologi baterai terus berkembang. Sehingga kita punya momentum mengejar. Kalau di ICE (Internal Combustion Engine) sulit dikejar, tapi kalau di (mobil dan motor) listrik sangat mungkin dikejar,” ujar Moeldoko beberapa waktu lalu di JIExpo Kemayoran.
Secara teoretis, argumen ini sekilas masuk akal. Era elektrifikasi memang mendekonstruksi dominasi mapan pabrikan mobil konvensional bermesin bensin, di mana garis start global relatif lebih terbuka.
Namun, melihat isu ini sebatas perlombaan “waktu dan momentum” justru mengaburkan masalah krusial yang jauh lebih mendasar: kegagalan kita dalam merawat, melindungi, dan memaksimalkan pionir industri lokal yang sudah lebih dulu merintis jalan berdarah-darah.
Mengabaikan Jejak Panjang Pionir Lokal
Klaim bahwa Indonesia memiliki momentum untuk “mengejar” menghadirkan ironi tersendiri. Jauh sebelum wacana-wacana baru kembali berseliweran, Indonesia sebenarnya telah membuktikan kapasitas teknisnya lewat kehadiran Gesits.
Lahir dari rahim kolaborasi riset anak bangsa antara Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan konsorsium industri motor listrik ini membuktikan bahwa insinyur lokal mampu merancang dan memproduksi kendaraan roda dua bertenaga listrik secara mandiri sejak satu dekade lalu.
Persoalannya kemudian bukan pada apakah kita terlambat atau tidak, melainkan bagaimana perlakuan negara terhadap produk rintisan dalam negeri tersebut.
Ketika pionir seperti Gesits harus berjuang di tengah kerasnya penetrasi pasar bebas, regulasi yang dinamis, hingga ketatnya persaingan modal, wacana baru yang dihembuskan tanpa evaluasi menyeluruh terasa seperti mengulang siklus lama: pandai merumuskan gagasan di atas kertas, tetapi lemah dalam konsistensi eksekusi di lapangan.
Jebakan Retorika “Teknologi Baterai Dinamis”
Moeldoko benar bahwa dinamika teknologi baterai membuka celah. Namun, menjadikan alasan tersebut sebagai pembenaran bahwa kita “belum terlambat” adalah sebuah pisau bermata dua.
Perkembangan teknologi baterai justru menuntut lompatan riset yang masif, modal investasi yang besar, serta penguasaan rantai pasok dari hulu (nikel, prekursor, katoda) hingga hilir (sel baterai).
Jika Indonesia hanya berhenti pada klaim optimis tanpa penguasaan teknologi inti (core technology), argumen “belum terlambat” hanya akan menjadi slogan kosong. Di tingkat global, perlombaan EV bukan sekadar merakit bodi dan roda, melainkan penguasaan komponen vital seperti manajemen baterai dan semikonduktor.
Tanpa peta jalan (roadmap) industri hulu yang terintegrasi, industri nasional hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri, atau sekadar pasar bagi aliansi manufaktur asing yang membonceng insentif domestik.
Sembuh di Narasi, Sakit di Eksekusi
Kritik utama terhadap dinamika kendaraan nasional hari ini terletak pada jurang pemisah antara retorika di pameran dan realitas kebijakan di lapangan.
Sebuah industri tidak akan lahir hanya dari klaim optimisme pejabat semata.
Ada tiga hal mendasar yang kerap luput dari perhatian para pembuat kebijakan:
Kepastian Regulasi dan Insentif: Kebijakan insentif yang kerap berubah-ubah menciptakan ketidakpastian bagi industri dalam negeri untuk merencanakan investasi jangka panjang.
Komitmen Pengadaan Publik: Pemerintah seharusnya menjadi pembeli pertama dan terbesar (anchor buyer) melalui kewajiban penggunaan kendaraan dinas operasional dari produk murni buatan lokal, bukan sekadar merek asing yang dirakit lokal (CKD) dengan kandungan lokal minimal.
Keberpihakan Pasar: Perlindungan terhadap ekosistem domestik dari gempuran produk impor masif yang mendapat sokongan ekosistem kuat dari negara asalnya.
Bukan Waktu, tapi Konsistensi
Indonesia tidak pernah benar-benar terlambat dalam perlombaan teknologi otomotif global. Namun, Indonesia sudah terlalu sering membuang energi untuk mengulang titik nol, melupakan sejarah perjuangan produk lokal yang sudah ada, serta gagal merawat ekosistem hilirisasi secara konsisten.
Jika narasi “belum terlambat” ingin diterjemahkan secara nyata, maka langkah pertama yang harus dilakukan bukan memunculkan wacana baru yang berdiri sendiri, melainkan memperkuat, melindungi, dan mendanai secara serius para perintis yang telah lebih dulu berdiri di garda depan seperti Gesits dan rantai pasok pendukungnya.
Sebab, kemandirian nasional tidak diukur dari seberapa sering kita mengklaim momentum, melainkan dari seberapa konsisten kita merawat karya anak bangsa sendiri.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal