Home / Otoritas / Bursa Efek Indonesia / Konflik Iran Tetap Menjadi Risiko Utama, Volatilitas Masih Tinggi dan Sensitif.

Konflik Iran Tetap Menjadi Risiko Utama, Volatilitas Masih Tinggi dan Sensitif.

MarketNews.id- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ini, Kamis (2/4), dengan membukukan kejatuhan IHSG sebesar 2,19 persen ke level 7.026, dan juga lebih rendah dari sesi penutupan pekan sebelumnya di posisi 7.097. Investor asing mencatatkan arus keluar dana ekuitas sebesar USD126 juta dalam sepekan terakhir.

PT Ashmore Asset Management Indonesia, mencatat beberapa hal penting yang mempengaruhi pergerakan pasar modal dalam dan luar negeri pada pekan ini, antara lain;

Ashmore mencatat, sektor yang paling tertinggal dalam sesi perdagangan selama sepekan ini adalah, Transportasi & Logistik (-3,57%) serta Keuangan (-2,23%). Sementara itu, sektor yang berkinerja baik adalah Consumer Cyclicals (+6,58%) dan Industrials (+3,35%).

Pasar berkinerja terbaik pekan ini dicatat oleh Indeks Nasdaq (+4,26%) dan harga CPO (+4,03%). Di sisi lain, terjadi koreksi pada harga batu bara (-6,76%) dan minyak mentah (-3,41%).

“Di Indonesia, tingkat inflasi melandai di bawah 3,5 persen dan sedikit di bawah ekspektasi pasar, namun surplus perdagangan juga lebih rendah dari perkiraan,” tulis Ashmore.

Pekan ini, Ashmore menyoroti, sikap sentimen investor global yang cenderung mengarah pada manajemen risiko, seiring berita terkait perang di Iran yang menekan minat terhadap aset berisiko.

“Konflik yang berkepanjangan ini tidak lagi sekadar peristiwa geopolitik, tetapi telah berdampak pada perekonomian global, terutama melalui lonjakan inflasi harga energi yang memengaruhi suku bunga global, aset safe haven , serta selera investor terhadap aset berisiko,” ungkap Ashmore.

“Di sisi domestik, perkembangan terbaru menunjukkan arah yang lebih positif terkait realisasi kebijakan dari otoritas Indonesia dalam upaya reformasi pasar modal,” imbuh Ashmore.

Ashmore juga emncermati, setelah sempat optimistis di awal pekan, sentimen pasar berbalik cepat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS akan melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa memberikan kejelasan kapan konflik akan berakhir.

Pasar pun segera mengantisipasi konflik yang berkepanjangan serta gangguan berkelanjutan pada harga energi dan jalur pelayaran, khususnya di Selat Hormuz dan sekitarnya yang kini berisiko tinggi. Harga minyak melonjak, dengan Brent sempat mendekati USD120 per barel pekan ini sebelum turun kembali ke bawah USD110 pada Kamis lalu.

Sementara itu, imbal hasil US Treasury tetap tinggi akibat tekanan inflasi, dengan yield obligasi tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,35% dan tenor 2 tahun di kisaran 3,85%.

“Perkembangan utama yang perlu dicermati adalah dampak perang Iran terhadap harga minyak serta durasi konflik, yang akan memengaruhi ekspektasi inflasi dalam jangka pendek dan menengah,” sebut Ashmore.

Di dalam negeri, Ashmore melihat, otoritas Indonesia seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia ( KSEI ) telah merealisasikan sejumlah inisiatif yang sebelumnya dinantikan investor.

BEI telah merilis surat resmi terkait ketentuan minimum  free float  beserta periode pemenuhan bagi perusahaan terbuka untuk mencapai batas minimal 15 persen.

Selain itu, klasifikasi investor ditingkatkan dari 9 menjadi 39 jenis, yang diharapkan dapat meningkatkan transparansi kepemilikan saham. BEI juga telah merilis data kepemilikan saham di atas 1% per Maret, melanjutkan publikasi bulan sebelumnya.

“Investor kini menantikan daftar konsentrasi pemegang saham utama, yang diharapkan dapat menjawab kekhawatiran terkait kredibilitas dan transparansi pasar modal. Meski sikap resmi dari penyedia indeks global belum terlihat pasca perkembangan ini, terdapat optimisme bahwa langkah-langkah tersebut mengarah pada perubahan struktural yang positif bagi pasar modal Indonesia.

Dalam kondisi saat ini, konflik Iran tetap menjadi risiko utama, dengan volatilitas pasar yang masih tinggi dan sensitif terhadap perkembangan berita.

Ashmore kembali menekankan pentingnya diversifikasi lintas aset, dengan strategi defensif sebagai fondasi untuk mengelola volatilitas, sembari tetap fleksibel dalam memanfaatkan peluang saat terjadi koreksi.

Investor dapat mulai meningkatkan eksposur risiko ketika terdapat kejelasan yang lebih baik terkait perkembangan faktor eksternal.

Ashmore

Check Also

Sambut El Nino Godzilla, Pemerintah Lakukan Optmimalisasi Waduk Hingga Modifikasi Cuaca

MarketNews.id- Pemerintah terus mempersiapkan strategi untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi di sejumlah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *