MarketNews.id-Pendapatan usaha meningkat, tidak otomatis laba bersih perusahaan ikut naik. Banyak faktor lain jadi penyembab perusahaan alami penurunan laba, bahkan alami kerugian besar lantaran tidak efisiennya perusahaan mengelola usaha dengan pruden.
PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) sepanjang tahun 2025 lalu, alami peningkatan pendapatan hingga 14,9 persen. Tapi sayangnya, laba bersih perseroan justru alami penurunan hingga 18,3 persen. Penyebab penurunan laba bersih HAMA, diantaranya lantaran penurunan laba sebelum pajak dan beban pajak sebesar Rp100,30 miliar.
Sepanjang 2025, MAHA membukukan laba bersih Rp242,53 miliar atau melorot 18,3 persen dibandingkan capaian di Tahun Buku 2024 yang sebesar Rp296,72 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan MAHA untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten di bawah kendali PT Edika Agung Mandiri ini mencatatkan pendapatan Rp2,92 triliun atau meningkat 14,9 persen dibandingkan periode yang sama di 2024 sebesar Rp2,54 triliun.
Sejalan dengan kenaikan omzet tersebut, beban pokok pendapatan mengalami kenaikan sebesar 14,6 persen (year-on-year) menjadi Rp2,33 triliun, sehingga laba bruto di sepanjang 2025 menjadi Rp588,81 miliar atau bertumbuh 15,9 persen (y-o-y).
Pada periode Januari-Desember 2025, MAHA mencatatkan laba usaha Rp483,16 miliar atau lebih tinggi 14,6 persen (y-o-y), sedangkan laba sebelum pajak penghasilan tercatat menurun 10,6 persen menjadi Rp335,87 miliar dari Rp375,84 miliar pada 2024.
Dengan adanya beban pajak penghasilan (neto) di 2025 sebesar Rp100,30 miliar, maka laba tahun berjalan yang dicatatkan MAHA menjadi Rp235,57 miliar atau terperosok 19,6 persen (y-o-y).
Adapun besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk untuk Tahun Buku 2025 senilai Rp242,53 miliar alias merosot 18,3 persen (y-o-y).
Dari sisi neraca, jumlah ekuitas MAHA per 31 Desember 2025 tercatat Rp1,9 triliun atau bertumbuh 1,5 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 sebesar Rp1,88 triliun.
Hingga akhir 2024, total liabilitas sebesar Rp1,09 triliun atau membengkak 32 persen (y-o-y), yang didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp707,19 miliar.
Akibat terkatrol lonjakan liabilitas tersebut, maka per 31 Desember 2025 total aset perseroan menjadi Rp2,99 triliun atau meningkat 10,8 persen (y-o-y), dengan jumlah kas dan setara kas Rp566,23 miliar atau melambung 52 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang senilai Rp372,59 miliar.
M Rizki A
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal