MarketNews.id-Pendapatan konsolidasi PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) sepanjang tahun 2025 alami lonjakan signifikan. Penyebabnya, ditopang kenaikan kontrak pelanggan sebesar 18,9 Persen dan kontribusi entitas asosiasi 21,8 persen. Sementara laba usaha perseroan ikut naik 20,5 persen jadi Rp1,40 triliun meskipun beban penjualan dan administrasi ikut naik.
DNET, tahun lalu mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang tahun buku 2025 dibandingkan dengan 2024 (year on year/ yoy).
Mengacu pada laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan, Selasa 31 Maret 2026, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan naik 18,9 persen yoy menjadi Rp1,69 triliun di tahun 2025 dari Rp1,42 triliun di tahun 2024.
Selain itu ditambah kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang meningkat 21,8 persen yoy menjadi Rp1,11 triliun dari Rp914 miliar, perusahaan berhasil memperkuat basis pendapatan secara konsolidasi.
Laba usaha perusahaan melonjak 20,5 persen yoy menjadi Rp1,40 triliun dari Rp1,16 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi meski beban penjualan naik 20,6 persen yoy menjadi Rp1,19 triliun dan beban umum serta administrasi meningkat 13,7 persen menjadi Rp210,5 miliar.
Dari sisi keuangan lainnya, penghasilan keuangan perusahaan turun 12,1 persen yoy menjadi Rp467,9 miliar, sementara biaya keuangan naik tipis 1,8 persen yoy menjadi Rp562,8 miliar.
Meski demikian, laba sebelum pajak tetap tumbuh 14,4 persen yoy menjadi Rp1,31 triliun dari sebelumnya Rp1,14 triliun. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan, laba bersih perusahaan mencapai Rp1,27 triliun, naik 16,7 persen yoy dari Rp1,09 triliun pada 2024.
Laba bersih ini terbagi untuk laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,26 triliun dari sebelumnya Rp1,07 triliun. Kemudian untuk kepentingan non pengendali sebesar Rp18,23 miliar dari sebelumnya Rp19,54 miliar.
Total penghasilan komprehensif tahun berjalan mencapai Rp1,32 triliun, meningkat 13,9 persen yoy dibanding Rp1,16 triliun tahun sebelumnya. Laba per saham dasar juga naik dari Rp75,58 menjadi Rp88,52, mencerminkan peningkatan nilai bagi pemegang saham.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan tumbuh 11 persen yoy menjadi Rp23,7 triliun dari Rp21,36 triliun.
Aset lancar turun 15,1 persen yoy menjadi Rp2,55 triliun, namun aset tidak lancar melonjak 15,2 persen yoy menjadi Rp21,15 triliun. Hal ini terjadi terutama dari investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama serta peningkatan aset tetap.
Liabilitas perusahaan naik 15,2 persen yoy menjadi Rp8,21 triliun, didorong oleh kenaikan utang bank jangka panjang. Meski demikian, ekuitas tetap kuat dengan kenaikan 8,8 persen yoy menjadi Rp15,49 triliun dari Rp14,24 triliun, menunjukkan fundamental yang sehat.
Kas dan setara kas akhir tahun tercatat Rp744,6 miliar, turun 30,2 persen yoy dari Rp1,067 triliun pada 2024. Penurunan ini terutama akibat arus kas keluar dari aktivitas investasi yang mencapai Rp1,27 triliun, meski arus kas operasi tetap positif Rp322,9 miliar dan aktivitas pendanaan menghasilkan kas neto Rp626,6 miliar.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal