MarketNews.id-Tuntutan MSCI secara bertahap akan di penuhi oleh Otoritas pasar modal Indonesia. Dari sekian banyak harapan MSCI terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI), soal kepemilikan pemegang saham publik sebanyak 15 persen dari saham tercatat. Sementara, saat ini, untuk memenuhi free float 7,5 persen saja sudah sangat sulit. Meskipun tidak sedikit juga emiten yang sudah melampaui harapan MSCI hingga lebih dari 15 persen.
Bursa saham Indonesia bakal diguyur penjualan saham sekitar Rp 187 triliun (USD11,1 miliar) guna memenuhi aturan free float yang lebih ketat. Langkah ini sebagai upaya untuk mencegah potensi penurunan status menjadi frontier market oleh MSCI Inc.
BEI memperkirakan 267 perusahaan perlu meningkatkan porsi kepemilikan publik menjadi 15%, dari batas minimum saat ini 7,5%. Langkah tersebut mengindikasikan potensi penjualan saham senilai sekitar Rp187 triliun rupiah (US$11,1 miliar).
Menurut Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna,
kebijakan ini menyusul peringatan MSCI bulan lalu bahwa Indonesia berisiko diturunkan ke status frontier market akibat kekhawatiran terkait transparansi investasi dan terbatasnya free float – yang memicu gejolak pasar terburuk dalam hampir tiga dekade.
Regulator kini berupaya memulihkan kredibilitas, meningkatkan likuiditas, dan meyakinkan investor global bahwa pasar Indonesia tetap terbuka dan atraktif, ujar Nyoman.
Tugas berat regulator dan penyelenggara bursa sudah di depan mata. Perlu kerjasama emiten dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal Indonesia untuk mendukung kebijakan regulator dan SRO agar pasar modal Indonesia tidak turun peringkat.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal