MarketNews.id- Krakatau Steel (KRAS), mengalami penyusutan pendapatan sedalam 34,3 persen secara tahunan menjadi USD954,59 juta pada akhir tahun 2024.
Walau beban pokok pendapatan turun 36,8 persen secara tahunan menjadi USD847,65 juta.Tapi laba kotor tetap merosot 5,3 persen secara tahunan menjadi USD106,94 juta.
Sedangkan laba operasi senilai USD26,687 juta pada akhir Desember 2024. Membaik dibanding akhir Desember 2023 yang tercatat rugi operasi sedalam USD8,04 juta. Salah satu pos pendongkraknya, pendapatan operasi lainnya melonjak 950 persen secara tahunan menjadi USD42,953 juta.
Sayangnya, biaya keuangan naik 18,6 persen secara tahunan menjadi USD153,65 juta. Kian berat, dampak rugi dari entitas asosiasi dan ventura sedalam USD49,6 juta pada akhir tahun 2024. Sidangkan tahun 2023 justru mendapatkan setoran laba senilai USD41,41 juta.
Dampaknya, rugi sebelum pajak penghasilan menukik sedalam 37,2 persen menyentuh USD140,47 juta pada tahun 2024.
Direktur Utama KRAS, Muhamad Akbar melaporkan rugi bersih sedalam USD154,71 juta pada akhir tahun 2024. Nilai kerugian kian dalam 18,4 persen dibanding akhir tahun 2023 yang tercatat USD130,21 juta.
Akibatnya, akumulasi kerugian atau defisit kian dalam 6,3 persen secara tahunan menyentuh USD2,473 miliar pada akhir tahun 2024. Pada gilirannya, total ekuitas menyusut 12,2 persen secara tahunan menjadi USD435,18 juta pada akhir tahun 2024.
Pada sisi lain, jumlah kewajiban jangka pendek USD2,214 miliar. Tapi aset lancar hanya USD641,54 juta. Dengan demikian, kewajiban jangka pendek melebihi aset lancar USD1,573 miliar. pemicunya, saldo pinjaman bank diklasifikasikan menjadi jangka pendek karena pelanggaran persyaratan pinjaman senilai USD1,363 miliar.
Defisit dan kelebihan kewajiban ini diungkapkan akuntan publik pemeriksa laporan keuangan KRAS tahun 2024 sebagai kondisi yang mengindikasikan adanya suatu ketidakpastian material yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan KRAS mempertahankan kelangsungan usaha.
Manajemen KRAS telah menyusun langkah agar kelangsungan usaha dan dapat memenuhi kewajiban keuangan. Misalnya, dari aspek keuangan dengan menyusun skema penyeesaian utang Tranche A, B dan C dengan sumber dana pembayaran yang terdiri dari arus kas operasional, divestasi dan/atau optimalisasi aset Grup, serta fund raising dari aksi korporasi lainnya.
Kemudian aspek operasional antara lain dengan mempercepat yang saat ini masih dalam tahap uji coba (commissioning) dan ditargetkan selesai pada akhir Mei 2025.
Bahkan Kementerian BUMN telah menyatakan dukungan atas rencana strategis tersebut pada 30 April 2025.
Namun Direktur Utama KRAS, Muhamad Akbar mengungkapkan terdapat ketidakpastian yang material dikarenakan bergantung pada dukungan dari kreditur dan pemasok yang ada, melalui penundaan pembayaran liabilitas dan kemampuannya untuk memperbaiki kinerja operasional dan kondisi keuangannya.
“Ada kemungkinan beberapa rencana tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh manajemen,” tulis Muhammad Akbar dalam catatan atas laporan keuangan nomor 47 dikutip Sabtu 3 Mei 2025.
Abdul Segara
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal