MarketNews.id Meskipun kinerja Bank Centra Asia Tbk (BBCA) terus meningkat dengan fundamental semakin kokoh. Bank swasta terbesar ini, hingga kuartal ketiga, telah mengantongi laba sebesar Rp29 triliun.Tapi dari sisi penyaluran kredit masih rendah dengan posisi LDR 63 persen. Dengan kondisi ini BBCA di tahun 2023 diperkirakan akan menggenjot penyaluran kredit hingga mencapai LDR yang ideal.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo, mengatakan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diprediksi akan menjadikan pertumbuhan kredit sebagai agenda utama untuk mendorong pertumbuhan kinerja tahun 2023.
“Hal ini mengingat LDR rendah di 63,3%. Prediksi ini sejalan dengan panduan bank untuk pertumbuhan kredit 12% YoY di tahun depan,” kata Handiman dalam keterangan tertulis, Senin 24 Oktober 2022.
“Meskipun kami menyukai BBCA dengan hasil yang luar biasa dan fundamental yang kuat, kami mempertahankan rekomendasi Hold kami dengan TP Rp9.000 karena potensi upside yang terbatas,” ujar Handiman.
Berdasarkan evaluasi, BBCA telah membukukan laba bersih Rp29 triliun (+24.8% YoY). “Hasilnya sesuai dengan perkiraan kami tetapi di atas konsensus masing-masing pada 76,5% dan 78,8% terhadap perkiraan 2022 secara keseluruhan (rata-rata 5 tahun: 73,4%),” jelas Handiman.
Pertumbuhan pendapatan bunga meningkat menjadi 6,8% QoQ di Q3 2022 (2Q22: +5,0% QoQ) karena kenaikan suku bunga acuan yang mendorong kenaikan imbal hasil, terutama dari penempatan di BI dan obligasi pemerintah.
Selain itu, pertumbuhan kredit yang kuat (+12,6% YoY) dan imbal hasil kredit USD yang lebih tinggi (2Q22: 3,1%; 3Q22: 3,6%) juga berkontribusi pada peningkatan pendapatan bunga meskipun imbal hasil kredit rupiah stabil (2Q22 dan 3Q22: 7,3%).
Beban provisi hanya Rp191 miliar di Q3 2022 (Q1 2022: Rp2,8 triliun ; Q2 2022 : Rp909 miliar), yang menghasilkan beban provisi yang jauh lebih rendah sebesar Rp3,9 triliun di sepanjang Januari – September 2022 (-48.8% YoY).
Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 12,6% YoY pada Q3 2022, melambat dari 13,8% YoY pada Q2 2022, terseret oleh kredit korporasi (-1,3% QoQ) meskipun kredit komersial & UKM dan konsumer meningkat masing-masing sebesar 3,0% dan 2,8% QoQ.