Home / Otoritas / Bank Indonesia / Arus Modal Asing Masuk Pasar Keuangan RI Capai Rp131,1 Triliun Di Awal Oktober

Arus Modal Asing Masuk Pasar Keuangan RI Capai Rp131,1 Triliun Di Awal Oktober

MarketNews.id-Ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi global dan arah suku bunga bank sentral jadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan modal asing serta stabilitas keuangan Indonesia.

Sejak awal Oktober 2026, arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp131,1 Triliun lewat SRBI sebesar Rp178,6 triliun dan SBN Rp36, 7 triliun.

Sementara di pasar saham alami tekanan dengan terjadinya outflow Rp84,2 triliun pada kuartal IV hingga 7 Oktober. Sedangkan kepemilikan asing di SBN justru Naik jadi Rp912,92 triliun pada 8 Oktober 2026.

Arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp131,1 triliun sepanjang 2026 hingga awal Oktober, terutama ditopang oleh aliran dana ke instrumen pendapatan tetap.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik, investor asing masih menunjukkan minat terhadap instrumen keuangan domestik, khususnya Sertifikat Rupiah Bank Indonesia ( SRBI ) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Berdasarkan laporan Weekly Economic Update periode 5-9 Oktober 2026 yang dirilis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melalui website, Senin 12 Oktober 2026, arus masuk dana asing tersebut mencerminkan preferensi investor terhadap instrumen pendapatan tetap dibandingkan aset berisiko, seperti saham.

Hingga awal Oktober 2026, SRBI mencatat arus masuk (inflow) sebesar Rp178,6 triliun, sedangkan SBN menyerap dana asing sebesar Rp36,7 triliun. Daya tarik SBN didukung oleh tingkat kupon yang kompetitif dibandingkan instrumen dengan tingkat risiko serupa.

Sementara itu, aliran dana ke pasar saham masih menghadapi tekanan. Pada kuartal IV-2026 hingga 7 Oktober, pasar saham mencatat arus keluar (outflow) sebesar Rp84,2 triliun, termasuk Rp3,13 triliun pada awal kuartal IV.

Di pasar valuta asing, arus masuk ke instrumen keuangan domestik turut berlangsung di tengah volatilitas nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa minat investor asing terhadap aset Indonesia masih terkonsentrasi pada instrumen pendapatan tetap, sementara pasar saham menghadapi tantangan dalam mempertahankan arus modal.

Dari sisi pasar obligasi pemerintah, kepemilikan asing atas SBN meningkat menjadi Rp912,92 triliun pada 8 Oktober 2026, dibandingkan Rp905,47 triliun pada 2 Oktober 2026.

Kenaikan ini mengindikasikan adanya tambahan eksposur investor asing pada surat utang pemerintah dalam periode tersebut.

Namun, pergerakan imbal hasil (yield) SBN masih bervariasi. Pada 9 Oktober 2026, yield tenor dua tahun turun tiga basis poin secara mingguan menjadi 6,784 persen. Sebaliknya, yield tenor lima tahun naik dua basis poin menjadi 7,085 persen, sedangkan tenor 10 tahun meningkat empat basis poin menjadi 7,209 persen.

Hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara ( SBSN ) pada 6 Oktober 2026 menunjukkan permintaan investor yang melampaui nilai yang dimenangkan pemerintah. Total penawaran mencapai Rp32,62 triliun dari delapan seri SBSN , sedangkan nominal yang dimenangkan sebesar Rp10 triliun atau sekitar 30,7 persen dari total penawaran.

Permintaan terbesar berasal dari seri Surat Perbendaharaan Negara Syariah ( SPNS ) dengan nilai Rp17,18 triliun, sedangkan seri Project Based Sukuk (PBS) memperoleh penawaran Rp15,44 triliun.

Tekanan pada tenor panjang berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap risiko fiskal akibat meningkatnya biaya subsidi energi dan ketidakpastian arus modal asing.

Meski demikian, persepsi risiko kredit Indonesia menunjukkan perbaikan, tercermin dari Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun yang turun 2,33 persen secara mingguan menjadi 92,20 basis poin.

Pefindo menilai perkembangan ekonomi global pada periode 5-11 Oktober 2026 masih diwarnai risiko geopolitik yang tinggi. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi di Selat Hormuz, sementara konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global.

Di Amerika Serikat, risalah rapat Federal Open Market Committee ( FOMC ) September 2026 menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan Federal Reserve menilai kenaikan lanjutan suku bunga masih mungkin dilakukan menjelang akhir tahun. Suku bunga Federal Funds dipertahankan pada kisaran 3,75%-4,00%, dengan sejumlah pejabat menekankan risiko inflasi yang masih tinggi.

Sikap bank sentral AS tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor, terutama karena arah suku bunga global dapat memengaruhi daya tarik aset negara berkembang dan pergerakan nilai tukar.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) juga menghadapi risiko inflasi yang cenderung meningkat. Sementara itu, Reserve Bank of India menaikkan suku bunga repo utama sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, di tengah pelemahan rupee dan tekanan inflasi.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan moneter global masih bergerak dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian.

Bagi Indonesia, perubahan ekspektasi suku bunga global berpotensi memengaruhi keputusan alokasi portofolio investor asing, terutama antara instrumen pendapatan tetap dan saham.

Ke depan, perkembangan arus modal asing akan dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan suku bunga global, stabilitas nilai tukar, kondisi fiskal, serta kemampuan pemerintah menjaga pertumbuhan konsumsi domestik.

Pergeseran preferensi investor antara obligasi dan saham juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan stabilitas pasar keuangan Indonesia pada sisa 2026.

Check Also

Indeks Terkoreksi 2,59 Persen Ke Level 5.936,15. Ada 632 Saham Alami Penurunan Harga

MarketNews.id-Perdagangan saham hari ini penuh dengan tekanan perekonomian lokal maupun global yang cenderung membuat prihatin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *