MarketNews.id- Saham emiten yang memiliki bisnis pusat data atau data center bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Senin, 28 September 2026. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melemah Rp40 atau 1,66 persen menjadi Rp2.370, sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) stagnan di Rp1.055.
Berdasarkan data Investing.com, volume perdagangan TLKM mencapai sekitar 131,89 juta saham, sedangkan DSSA sekitar 206,44 juta saham. Untuk PT DCI Indonesia Tbk (DCII), data transaksi terakhir yang tersedia pada sumber tersebut masih bertanggal 25 September 2026, yakni Rp198.000.
Di tengah kebutuhan komputasi dan penyimpanan data, peluang bisnis pusat data tetap menjadi tema yang dapat dicermati investor. Namun, keterkaitan emiten dengan industri ini perlu diuji melalui pendapatan, kesiapan fasilitas, dan kemampuan membiayai ekspansi.
Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam laporan Tesis Energi Data Center yang terbit September ini menekankan bahwa masing-masing emiten memiliki sumber pendapatan dan tingkat kepastian bisnis berbeda.
“Karena jalur pendapatan dan tingkat kepastiannya berbeda, setiap emiten harus dinilai dengan indikator yang sesuai — bukan ditempatkan dalam satu peringkat yang sama,” tulis Liza dalam laporan tersebut.
Kiwoom menempatkan pasokan listrik yang andal sebagai salah satu faktor utama daya saing data center Indonesia. Kepastian sambungan listrik, dukungan infrastruktur, serta kontrak pelanggan menentukan seberapa cepat investasi dapat menghasilkan pendapatan.
“Biaya produksi listrik yang murah belum tentu menghasilkan biaya listrik 24/7 yang murah bagi data center,” tulis laporan tersebut.
Investor juga perlu memperhitungkan biaya jaringan, listrik cadangan, pendinginan, air, lahan, dan kecepatan penyambungan. Faktor-faktor itu memengaruhi biaya pembangunan maupun pengoperasian fasilitas.
Pada DCII, Kiwoom melihat keterkaitan langsung dengan pertumbuhan permintaan penyewaan kapasitas pusat data.
“DCII merupakan eksposur paling langsung terhadap penyewaan kapasitas data center dalam negeri, terutama dari pelanggan cloud besar dan komputasi AI. Rekam jejak operasionalnya menjadi keunggulan,” tulis Kiwoom.
Laporan keuangan DCII tahun buku 2025 menunjukkan pendapatan Rp2,54 triliun, meningkat 40,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 25,7% menjadi sekitar Rp1 triliun.
Arus kas operasi mencapai Rp1,54 triliun, sementara pengeluaran kas untuk perolehan aset tetap sebesar Rp1,72 triliun. Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan investasi dalam pengembangan bisnis perseroan.
Dari sisi harga, perhitungan berdasarkan saham DCII sebesar Rp198.000 pada 25 September dan laba per saham 2025 sebesar Rp420 menghasilkan PER historis sekitar 471 kali. Perhitungan ini menggunakan laba tahun buku 2025, bukan proyeksi maupun laba 12 bulan terakhir.
Kiwoom juga mengingatkan adanya dua sisi dari keterbatasan pasokan energi bagi operator.
“Kelangkaan listrik dapat memperkuat posisi DCII, tetapi juga menambah biaya dan menunda ekspansi,” tulis Kiwoom. Laporan itu menempatkan keterisian kapasitas baru, kontrak pelanggan, hasil belanja modal, valuasi, dan likuiditas saham sebagai faktor yang perlu dipantau.
Pada DSSA, penilaian perlu mempertimbangkan struktur grup yang memiliki beragam kegiatan usaha.
“DSSA merupakan grup dengan banyak lini bisnis, sehingga kontribusi data center dapat tertutup segmen pertambangan dan energi,” tulis Kiwoom.
Perseroan melaporkan pendapatan infrastruktur digital dan teknologi kuartal I 2026 sebesar US$69,1 juta, meningkat 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilainya setara sekitar 10% dari pendapatan konsolidasi US$693,2 juta.
Pendapatan segmen tersebut mencakup bisnis digital yang lebih luas sehingga tidak seluruhnya berasal dari data center. DSSA menargetkan fasilitas SMX01 mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
“Katalisnya adalah dimulainya operasi SMX01, kontrak pelanggan, tingkat keterisian serta pendapatan dan laba data center yang dilaporkan terpisah,” tulis Kiwoom.
Sementara itu, TLKM memiliki keterkaitan melalui pusat data, layanan cloud, dan infrastruktur konektivitas.
“TLKM menggabungkan operator data center, layanan cloud, jaringan fiber dan posisi Batam sebagai penghubung Indonesia–Singapura,” tulis Kiwoom.
Secara konsolidasi, Telkom membukukan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp75,9 triliun, naik 3,9% secara tahunan. Laba bersih mencapai Rp10,6 triliun atau meningkat 1,4%.
Pada harga penutupan Rp2.370 dan laba per saham 2025 sebesar Rp179,83, PER historis TLKM sekitar 13,2 kali. Rasio tersebut perlu dibaca bersama karakter bisnis Telkom yang lebih luas daripada layanan data center.
Dalam menilai ekspansi TLKM, Kiwoom menekankan pentingnya membedakan kapasitas rencana dengan fasilitas yang telah menghasilkan layanan.
“Kapasitas yang dirancang dan sudah beroperasi tidak boleh disamakan,” tulis Kiwoom. Realisasi fasilitas Batam, kontrak pelanggan, tingkat keterisian, serta pengungkapan EBITDA data center menjadi indikator yang perlu dicermati.
Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa prospek industri perlu dipertemukan dengan kondisi saham masing-masing emiten.
“Keterkaitan dengan tema data center bukan rekomendasi beli. Valuasi, likuiditas, porsi saham publik, kebutuhan pendanaan dan harga masuk tetap harus dianalisis secara terpisah,” tulis Kiwoom.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal