Home / Corporate Action / Pabrik Baterai EV Terbesar Ke Dua Di Indonesia Mulai Beroperasi.

Pabrik Baterai EV Terbesar Ke Dua Di Indonesia Mulai Beroperasi.

MarketNews.id- Penggemar Kendaraan Listrik saat ini, sedang hangat memperbincangkan ihwal kabar mulai beroperasinya pabrik baterai kendaraan listrik (EV) milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.

Bagi yang belum tahu, pabrik ini menjadi yang terbesar kedua di RI setelah pabrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang beroperasi dan diresmikan pada Juli 2024 lalu.

PT CATIB merupakan perusahaan patungan antara IBC dan CBL, anak usaha produsen baterai terbesar asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).

Terkait hal itu, Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif mengatakan, fasilitas produksi di Karawang tersebut menghasilkan baterai kendaraan listrik, serta sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS).

“Sekarang kondisinya sudah seperti ini, jadi sudah memang sudah beroperasi sejak bulan Juli (2026),” kata Farhan di Energy Building, Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk BESS, Battery Energy Storage System,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem pabrik baterai EV terintegrasi yang diklaim terbesar di Asia.

Hal itu didukung dengan besarnya cadangan bahan baku utama komponen baterai, yakni nikel.

Lantas, benarkah hal tersebut berpengaruh pada harga mobil listrik yang beredar di pasar saat ini? Mari telusuri.

Secara terpisah, para ilmuwan mengumumkan terobosan baru dalam teknologi baterai yang berpotensi meningkatkan keamanan kendaraan listrik (EV).

Temuan ini lahir dari pengembangan baterai natrium-ion (Na-ion) berbasis solid-state, yang disebut dapat menjadi alternatif lebih aman dan lebih murah dibanding baterai lithium-ion (Li-ion) yang mendominasi pasar saat ini.

Selama ini, baterai Li-ion menjadi teknologi utama untuk perangkat elektronik dan kendaraan listrik. Kendati demikian, baterai jenis ini memiliki risiko mengalami thermal runaway, yaitu peningkatan panas ekstrem akibat korsleting atau kerusakan fisik yang dapat memicu kebakaran atau ledakan. Risiko tersebut diperburuk oleh penggunaan elektrolit cair organik yang sangat mudah terbakar.

Baterai Na-ion dianggap lebih aman karena menggunakan material katoda yang lebih stabil dan memiliki potensi elektrokimia yang lebih rendah dibanding lithium, sehingga lebih kecil kemungkinan mengalami kegagalan termal.

Namun tantangannya, baterai Na-ion memiliki kepadatan energi lebih rendah dan cenderung mengalami degradasi lebih cepat, sehingga masa pakainya lebih singkat.

Profesor dari Western University, Yang Zhao menyebut penelitian terbaru ini disebut mampu menjawab sebagian persoalan baterai EV dengan memanfaatkan fasilitas Canadian Light Source untuk menganalisis pergerakan ion dalam elektrolit solid yang mereka kembangkan.

“Kami mengganti elektrolit cair dalam baterai menjadi elektrolit solid-state yang tidak mudah terbakar,” ujar Yang Zhao dalam sebuah video penjelasan, dikutip pada Senin, 28 September 2026.

BYD Bangun Pabrik Baterai Sendiri

Berkaca dari hal itu, produsen mobil terbesar di Tiongkok, BYD juga mengalihkan fokusnya untuk menaklukkan pasar internasional, salah satunya dengan membangun pabrik baterai EV sendiri.

Saat ini, BYD baru saja menyelesaikan pembangunan pabrik pertamanya di Szeged, Hungaria, dan telah memulai tahap uji coba produksi.

Langkah strategis ini diungkapkan langsung oleh Alfredo Altavilla, mantan eksekutif Fiat Chrysler yang kini menjabat sebagai penasihat operasional BYD di Eropa.

Altavilla mengungkapkan, perusahaan asal Tiongkok tersebut berencana mendirikan 3 pabrik perakitan kendaraan serta satu fasilitas khusus yang difokuskan untuk merakit baterai EV.

“Dalam jangka panjang, kami akan membutuhkan 3 pabrik perakitan dan 1 pabrik baterai. Tentu saja, hal ini tidak bisa terwujud dalam sekejap mata,” kata Altavilla dikutip dari Reuters, pada Senin, 28 September 2026.

“Namun, sangat jelas bahwa untuk mencapai target volume penjualan yang kami tetapkan, sekaligus mematuhi regulasi ketat di Eropa, itulah fasilitas yang wajib kami miliki,” tambahnya.

Check Also

BEI Sempurnakan Ketentuan Papan Pemantauan Khusus, Utamakan Discovery Dan Perlindungan Investor

MarketNews.id-Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan kualitas mekanisme perdagangan di Pasar Modal Indonesia, PT Bursa Efek …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *