MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga Agustus 2026 dengan mencatatkan penguatan IHSG sebesar 0,37% menjadi 6.525, lebih tinggi 123 poin dibanding posisi akhir pekan sebelumnya di 5.402.
Investor asing mencatatkan arus dana masuk ke pasar saham sebesar USD71 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa hal penting sepanjang pekan.
Sektor yang berkinerja terbaik pekan ini adalah Properti & Real Estat serta Energi, yang masing-masing melesat 5,72% dan 5,67%. Sedang
Aset dengan kinerja terbaik pekan ini adalah Bitcoin (+17,06%) dan minyak mentah (+5,29%).
Sebaliknya, terjadi koreksi pada indeks Nikkei (-4,32%) dan Nasdaq (-2,48%).
Di AS, Ashmore mencermati, risalah rapat FOMC Juli menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi yang persisten meluas di luar tiga pejabat yang memilih kenaikan suku bunga.
Nada tersebut lebih hawkish dari perkiraan, meski respons pasar terbatas karena pada saat yang sama Departemen Keuangan AS mengumumkan penggandaan pembelian kembali obligasi berjangka panjang, tulis Ashmore.
Di sektor energi, persediaan minyak mentah AS secara tak terduga meningkat 4,4 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan tipis. Hal ini menunjukkan pasokan masih mengalir ke AS meski terjadi gangguan di sekitar Selat Hormuz, sementara harga minyak tetap naik akibat risiko geopolitik.
Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% untuk bulan ketiga berturut-turut, sesuai ekspektasi. Sementara itu, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,58% dari 12,67%, menunjukkan permintaan kredit tetap kuat dan sistem perbankan terus mendukung aktivitas ekonomi meski suku bunga ditahan,” sebut Ashmore.
Ashmore melihat, konflik di Timur Tengah meluas pekan ini dan harga minyak naik ke level tertinggi dalam satu bulan, namun aset Indonesia tetap bertahan dengan baik.
Keputusan kebijakan pertama Bank Indonesia di bawah kepemimpinan baru berlangsung tanpa gejolak, China mempertahankan suku bunga pinjamannya, dan saham domestik menguat hingga menutup pekan di level 6.526.
“Untuk pekan kedua berturut-turut, kondisi domestik lebih mendukung dibandingkan kondisi global,” catat Ashmore.
Sedangkan di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, bersamaan dengan suku bunga deposit facility dan lending facility , sesuai perkiraan hampir seluruh dari 35 ekonom yang disurvei.
Menurut Ashmore, rapat pertama yang dipimpin Pejabat Gubernur Destry Damayanti ini signifikansinya bukan pada keputusan suku bunga, melainkan pada cara keputusan tersebut disampaikan.
Ashmore menilai, Destry tetap mengikuti panduan kebijakan sebelumnya, menegaskan kembali komitmen terhadap stabilitas rupiah, serta menyatakan bahwa bank sentral akan memperluas skema insentif untuk menarik modal asing.
Setelah perubahan kepemimpinan mendadak bulan lalu, kesinambungan kebijakan tersebut merupakan hal yang ingin dilihat investor. Pertumbuhan kredit juga meningkat menjadi 13,58% pada Juli dari 12,67%. Hal ini, menurut Ashmore, menunjukkan aktivitas domestik tetap kuat meski suku bunga ditahan.
Saham Indonesia merespons positif dengan naik sekitar 1,9% sepanjang pekan dan menembus level tertinggi yang dicapai pada akhir Juli.
Penguatan didukung keputusan suku bunga BI dan langkah China mempertahankan suku bunga pinjaman selama 15 bulan berturut-turut.
Untuk obligasi Indonesia, kebijakan bank sentral yang stabil dan penurunan imbal hasil US Treasury memberikan sentimen positif. “Imbal hasil obligasi Indonesia tetap menarik bagi investor yang mencari pendapatan yang stabil, meski kenaikan harga minyak membatasi potensi penguatan lebih lanjut,” ungkap Ashmore.
Secara keseluruhan, Ashmore berpendapat, kondisi eksternal memburuk sementara kondisi domestik membaik, dan aset Indonesia mengikuti perkembangan domestik tersebut.
Namun Ashmore, tidak menyarankan untuk terlalu banyak mengambil kesimpulan dari kinerja satu pekan. “Harga minyak yang bertahan di atas USD90 pada akhirnya akan memberikan dampak melalui nilai tukar dan anggaran pemerintah,” papar Ashmor.
Ashmore menegaskan tetap sama, yaitu memilih perusahaan yang likuid dan transparan dengan fundamental kuat, serta obligasi berkualitas yang menawarkan pendapatan stabil, dengan diversifikasi di berbagai kawasan dan kelas aset.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal