MarketNews.id-Bank Indonesia (BI), mempertahankan BI-Rate di level 5,75 Persen dan memperluas insentif untuk menarik arus modal asing serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Seperti diketahui nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, tertekan penguatan dolar AS di tengah meningkatnya bentrokan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global, lonjakan inflasi, serta prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Sementara, Bank Indonesia memilih mempertahankan suku bunga acuan 5,75%, di luar perkiraan pasar yang secara luas memproyeksikan kenaikan 0,25%.
Mengutip data Bloomberg, Rabu 22 Juli 2026 pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 29 poin atau 0,16% ke level Rp17.917 per dolar AS, dibandingkan penutupan Selasa (21/7) di posisi Rp17.888 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks dolar AS dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong investor memburu aset safe haven.
Pelaku pasar mempertimbangkan meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran, dimana pasukan AS mengatakan mereka mulai menyerang target militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut pada hari Selasa, menargetkan lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando dan kendali, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur militer lainnya, seiring Washington mengintensifkan kampanyenya melawan Teheran.
Teheran melanjutkan serangan balasan terhadap posisi militer AS di seluruh wilayah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Menurut Ibrahim, pasar juga mencermati ancaman blokade jalur pelayaran oleh kelompok Houthi di Laut Merah yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Teluk.
Kondisi tersebut memperbesar risiko kenaikan harga energi, meningkatnya biaya logistik dan asuransi, serta memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat.
“Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.
Berdasarkan data Prime Terminal, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan mencapai 78%, sementara peluang kenaikan suku bunga pada September diperkirakan sekitar 68%.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) hingga Semester I-2026. Pemerintah mencatat defisit APBN sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap PDB.
Pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% dari target tahun ini, sedangkan belanja negara terealisasi Rp1.656 triliun atau 43,1% dari target. Defisit tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp197 triliun atau 0,81% terhadap PDB.
Selain itu, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
Bank sentral juga memperluas berbagai insentif untuk mendorong arus masuk modal asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, serta meningkatkan likuiditas.
“Bank Indonesia dalam pertemuan siang ini, memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 5,75%. Bersamaan dengan keputusan ini, BI menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%,” jelas Ibrahim.
“Ia menilai keputusan tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tingginya ketidakpastian global dan tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal