Home / Otoritas / Bank Indonesia / Ashmore : Isu Utama Soal Keberlanjutan Defisit Fiskal Di Bawah 3 Persen, Dan Perbaikan Kualitas Belanja Negara

Ashmore : Isu Utama Soal Keberlanjutan Defisit Fiskal Di Bawah 3 Persen, Dan Perbaikan Kualitas Belanja Negara

MarketNews.id-Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan kedua Juli 2026, Jumat (10/7) dengan mencatatkan penguatan IHSG sebesar 0,20% menjadi 5.924, dan lebih tinggi dari sesi penutupan pekan sebelumnya di level 5.876.

Namun demikian, investor asing masih membukukan arus keluar ekuitas senilai USD73 juta selama sepekan terakhir.

Weekly Commentary PT Ashmore Asset Indonesia mencatat beberapa data penting yang mempengaruhi pergerakan dana di pasar modal dalam dan luar negeri, antara lain;

Ashmore mencatat, sektor dengan kinerja terbaik adalah keuangan dan energi, yang masing-masing melonjak 2,38% dan 1,63%. Sedangkan sektor yang tertinggal adalah infrastruktur yang anjlok 2,11%.

Pasar dengan kinerja terbaik pekan ini adalah minyak mentah yang membukukan loncatan harga 5,24% dan Indeks Hang Seng yang melompat 3,53%. Sebaliknya, terjadi koreksi tajam pada harga emas sebesar 1,79% dan Indeks Nikkei yang turun 1,70%.

Di dalam negeri, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD145,6 miliar dari sebelumnya USD144,9 miliar, sedikit di atas ekspektasi dan memberikan bantalan yang lebih kuat bagi Bank Indonesia dalam mengelola volatilitas rupiah serta tekanan eksternal.

Minat pada aset berisiko tetap tangguh meski eskalasi meningkat

Ashmore mencermati, ketegangan antara AS dan Iran pekan ini, kembali meningkat setelah beberapa kapal tanker komersial diserang. Situasi ini mendorong Washington melancarkan serangan baru terhadap sasaran militer Iran dan menantang pembaikan minat investor pada aset-aset berisiko yang terlihat dalam beberapa pekan terakhir.

AS juga mencabut izin sementara penjualan minyak Iran dalam jumlah terbatas. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) dengan Iran secara efektif telah “berakhir”. Iran kemudian menuduh AS melanggar gencatan senjata, sehingga ketegangan meluas di kawasan Teluk.

Pasar langsung bereaksi sebagaimana biasanya ketika ketegangan meningkat, yakni harga minyak naik dan aset-aset berisiko global mengalami tekanan. Namun demikian, harga minyak masih jauh di bawah level yang tercatat pada puncak perang Iran dan reaksi pasar secara keseluruhan relatif terbatas.

Reaksi yang relatif tenang ini menunjukkan adanya perubahan penting dalam sentimen investor. Pasar kini lebih bersedia mengabaikan gejolak geopolitik jangka pendek karena Selat Hormuz masih beroperasi sebagian dan pengiriman energi tetap berlangsung.

Pembicaraan teknis antara Amerika Serikat dan Iran juga dilaporkan masih terus berjalan meskipun terjadi aksi militer terbaru.

“Pertanyaan utama bagi pasar kini bukan lagi sekadar apakah gencatan senjata masih berlaku secara teknis, melainkan apakah meningkatnya ketegangan benar-benar mengganggu arus fisik minyak dan gas alam cair (LNG),” tulis Ashmore.

Menurut Ashmore, penutupan penuh Selat Hormuz atau serangan besar terhadap infrastruktur energi kawasan akan menjadi kejutan negatif yang jauh lebih besar dan dapat dengan cepat mengembalikan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan stagflasi seperti yang terjadi pada awal tahun ini.

Sementara itu, risalah rapat terbaru Federal Open Market Committee ( FOMC ) juga menambah dimensi makroekonomi penting terhadap perkembangan pekan ini. Para pembuat kebijakan masih terpecah mengenai arah inflasi dan suku bunga ke depan.

“Pasar kini menyeimbangkan dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu perlambatan penciptaan lapangan kerja yang mengurangi urgensi pengetatan moneter lebih lanjut. Sementara tekanan harga energi yang kembali meningkat dan inflasi yang masih tinggi membuat kemungkinan kenaikan suku bunga tetap terbuka,” papa Ashmore.

Di dalam negeri, Ashmore menyoroti prospek fiskal Indonesia yang menjadi salah satu pembahasan utama pasar pada pekan ini. Pemerintah merevisi proyeksi defisit fiskal 2026 menjadi 2,85% terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 2,68% dan semakin mendekati batas maksimum 3% yang ditetapkan undang-undang.

“Revisi tersebut sebagian mencerminkan tambahan alokasi sebesar Rp132 triliun untuk subsidi energi setelah lonjakan tajam harga energi global selama perang Iran,” imbuh Ashmore.

Ashmore berpendapat, meskipun defisit yang lebih besar pada awalnya terlihat negatif, rincian datanya memberikan gambaran yang lebih seimbang. Defisit fiskal Indonesia pada semester pertama 2026 hanya mencapai 0,76% terhadap PDB, dibandingkan 0,84% pada periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah juga menunjukkan kesediaan yang lebih besar untuk menyesuaikan belanja negara, termasuk memangkas anggaran program makan gratis sebesar Rp67 triliun, sementara langkah-langkah efisiensi tambahan masih terus dibahas.

“Isu utama bagi investor adalah apakah defisit fiskal dapat tetap dipertahankan secara berkelanjutan di bawah batas 3%, serta apakah kualitas belanja negara terus membaik. Hal ini menjadi semakin penting mengingat perhatian lembaga pemeringkat global terhadap konsistensi kebijakan dan disiplin fiskal Indonesia,” sebut Ashmore.

Secara keseluruhan, Ashmore menilai perkembangan pekan ini menunjukkan bahwa selera risiko global semakin tangguh menghadapi gejolak geopolitik, didukung oleh ekspektasi bahwa eskalasi terbaru masih akan tetap terkendali.

“Namun, gangguan baru terhadap Selat Hormuz, lonjakan tajam harga minyak, atau bukti bahwa inflasi AS lebih persisten dapat dengan cepat membalikkan sentimen pasar dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global.

Bagi Indonesia, Ashmore menekankan, perhatian kini telah beralih pada pelaksanaan kebijakan fiskal dan keberlanjutan reformasi pasar modal.

“Dalam kondisi saat ini, kami tetap sangat selektif dengan berfokus pada saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat, sambil tetap mempertahankan eksposur pada obligasi berkualitas tinggi untuk memperoleh imbal hasil yang menarik serta menjaga fleksibilitas portofolio.” (Ashmore)”

Check Also

BEI Luncurkan Fitur Baru IDX Mobile

MarketNews.id-PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Jumat (10/7), resmi meluncurkan tiga sub-fitur baru pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *