MarketNews.id-Badan Pusat Statistik (BPS), menyampaikan neraca perdagangan Indonesia alami defisit pada Mei 2026 lalu. Peristiwa ini jadi defisit bulanan pertama sejak 2020.
Sementara RHB memperkirakan surplus perdagangan yang beruntun dalam 70 bulan terakhir akan mengalami penyempitan, pada paruh kedua 2026. Penyebabnya, akibat pelemahan harga komoditas, perlambatan permintaan global dan kenaikan impor.
Disisi lain, perubahan kebijakan dagang AS serta pengawasan ekspor komoditas yang lebih ketat berpotensi meningkatkan volatilitas arus perdagangan.
Kondisi diatas, akan memicu kehati-hatian terhadap prospek perdagangan luar negeri Indonesia pada paruh kedua tahun ini.
Sementara Ekonom RHB, Wong Xian Yong, dalam risetnya mempertahankan pandangan yang hati-hati terhadap prospek perdagangan eksternal Indonesia.
Menurutnya, kombinasi pelemahan harga komoditas, melambatnya permintaan dari pasar global, serta meningkatnya impor diperkirakan akan mempersempit surplus perdagangan ke depan.
Ia menilai, ekspor minyak sawit berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya konsumsi domestik untuk program biodiesel.
Sementara itu, penurunan harga nikel diperkirakan akan mengurangi nilai ekspor, meskipun volume pengiriman diproyeksikan mulai pulih.
Selain itu, Wong menilai perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat serta pengawasan pemerintah yang semakin ketat terhadap ekspor komoditas dapat meningkatkan volatilitas arus perdagangan Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Dengan berbagai tantangan tersebut, RHB memperkirakan kinerja perdagangan Indonesia akan menghadapi tekanan yang lebih besar pada semester II-2026 dibandingkan periode sebelumnya.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal