MarketNews.id-Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menekan hampir semua uniit bisnis PT Erajaaya Swasembada Tbk (ERAA), terutama yang masih bergantung dengan impor.
Selain itu, BI rate yang lebih tinggi mengurangi likuiditas pasar, memaksa perusahaan lebih hati hati dalam mengelola inventory dan liability.
Guna mengantisipasi risiko kerugian kurs perusahaan akan lakukan hedging, memperbesar porsi produk lokal serta efisiensi pengelolaan utang dolar.
PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), mengakui bahwa kenaikan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberi tekanan signifikan terhadap bisnis perseroan.
Wakil Direktur Utama ERAA, Hasan Aula, menegaskan bahwa dua faktor tersebut menjadi tantangan besar yang harus diantisipasi secara hati-hati.
Ia menjelaskan, bahwa dua hal tersebut hampir berdampak pada ke semua bisnis di Indonesia sehingga tidak hanya perseroan saja.
“Kita juga kena (dampak) kenaikan dolar ini, semua dialami hampir semua bisnis unit. Namun kita tetap menjalankan dan mengelola forex ( Foreign Exchange) secara hati-hati,” kata Hasan dalam paparan publik secara virtual, Senin 29 Juni 2026.
Manajemen perseroan juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi dinamika pasar sehingga ketika ada indikasi atau potensi kenaikan nilai tukar, manajemen bisa segera melakukan respons dengan cepat.
“Kami juga melakukan hedging (lindung nilai), syukurnya produk kami sebagian besar sudah lokal walau ada beberapa brand yang masih tetap impor,” ujar Hasan.
Hasan menambahkan bahwa tahun 2026 ini tidak mudah bagi bisnis ritel teknologi karena kombinasi kenaikan suku bunga dan pelemahan kurs mengganggu hampir seluruh lini usaha. Oleh sebab itu manajemen sangat disiplin dalam mengelola utang dalam mata uang asing khususnya USD.
Dengan strategi tersebut, manajemen berharap bisnis tetap berjalan normal meski tekanan eksternal cukup besar.
“Kami juga sangat berhati-hati dalam mengelola inventory dan melakukan efisiensi dalam hal liability sehingga bisnis kita bisa normal,” tutup Hasan.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal