MarketNews.id-Keberhasilan Pemerintah mendongkrak laju pertumbuhan kredit hingga dua digit di semester pertama 2026, akan dilanjutkan di semester kedua ini.
Caranya, dengan menyuntik kembali Bank Himbara sebesar Rp 200 triliun seperti yang dilakukan di semester pertama tahun ini.
Hasilnya, pertumbuhan kredit Semester I tembus dua digit jadi 11,5 persen. Hingga akhir 2026, Pemerintah tergetkan pertumbuhan kredit mencapai 14-15 persen.
Pemerintah menilai, percepatan pertumbuhan ekonomi akan memperkuat kepercayaan investor dan pada akhirnya akan mendukung penguatan nilai tukar Rupiah.
Pemerintah Indonesia akan menyuntikkan tambahan likuiditas sebesar Rp200 triliun ke bank-bank milik negara guna mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.
Dana tersebut berasal dari kelebihan kas pemerintah yang selama ini ditempatkan di Bank Indonesia.
Dengan tambahan tersebut, total likuiditas yang ditempatkan pemerintah di perbankan BUMN mencapai Rp400 triliun. Sebagian dana akan ditempatkan dalam jangka pendek, sementara sisanya akan tetap berada di bank hingga akhir Desember 2026.
Menteri Keuangan Yudhi Sadewa Purbaya mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah menggelar pertemuan dengan para pimpinan lima bank BUMN , yakni Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Bank Tabungan Negara (BTN).
Menurut Yudhi, tanpa tambahan likuiditas tersebut, pertumbuhan kredit nasional berpotensi melambat dari laju dua digit sebesar 11,51% yang tercatat pada Mei.
Berdasarkan pembahasan dengan para direksi bank, tambahan dana diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kredit mencapai kisaran 14%-15% pada tahun ini.
Kebijakan ini sekaligus membatalkan kesepakatan sebelumnya antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, di mana pemerintah semula berencana mengembalikan injeksi likuiditas awal sebesar Rp200 triliun ke rekening simpanannya di bank sentral.
Menanggapi kekhawatiran bahwa penambahan likuiditas dapat mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah, Yudhi menegaskan kebijakan tersebut telah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi justru akan meningkatkan kepercayaan investor.
“Jika ekonomi melambat, investor akan keluar. Sebaliknya, jika ekonomi kembali bergerak, investasi akan meningkat dan pada akhirnya rupiah juga akan kembali menguat,” ujarnya.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal