MarketNews.id- Bursa saham Indonesia menutup sesi perdagangan pekan pertama Mei 2025, Jumat (8/5) dengan mencatatkan kejauthan IHSG sebesar 2,86% ke level 6.969, namun sedikit lebih tinggi dari sesi perdagangan pekan sebelumnya di posisi 6.957.
Investor asing di pasar saham mencatatkan arus masuk dana sebesar USD48 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa penting sepanjang pekan, antara lain;
Ashmore mencatat, sektor dengan kinerja terbaik adalah Infrastruktur dan Konsumer Non-Siklikal yang masing-masing melompat +5 % dan +2,10%. Sebaliknya, sektor dengan kinerja terburuk adalah Transportasi & Logistik serta Energi yang masing-masing ambles -5,74% dan -5,72%.
Indeks pasar dengan kinerja terbaik pekan ini adalah Indeks Nikkei (+5,38%) dan Nasdaq Composite (+2,75%). Sementara itu, harga minyak mentah terkoreksi (-7,63%) dan harga batu bara turun (-1,74%).
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat lebih kuat dari perkiraan dan menjadi pertumbuhan tahunan tertinggi sejak kuartal III-2022, terutama didorong konsumsi rumah tangga.
Sementara itu, inflasi tahunan turun lebih dalam dari perkiraan ke level terendah sejak Agustus tahun lalu dan tetap berada dalam target inflasi bank sentral, didukung kenaikan harga pangan dan perumahan yang lebih moderat.
“Indonesia juga mencatat surplus perdagangan Maret yang lebih rendah dari perkiraan, namun menjadi yang tertinggi sejak September, seiring penurunan ekspor dan kenaikan impor,” tulis Ashmore.
Ashmore mencermati, pekan ini, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran. Kedua pihak tetap saling menyerang meski gencatan senjata masih berlangsung. “Premi risiko tetap tinggi karena pasar menimbang optimisme negosiasi damai dengan kenyataan bahwa Selat Hormuz masih efektif tertutup,” papar Ashmore.
Sejak AS meluncurkan “Project Freedom”, hanya sekitar 9-15 kapal per hari yang melintas pada periode 2-7 Mei 2026, jauh di bawah rata-rata 120-140 kapal per hari sebelum gangguan di Selat Hormuz. Hingga kini belum ada perbaikan signifikan terhadap lalu lintas pelayaran maupun kondisi gencatan senjata.
AS dan Iran saat ini tengah meninjau kerangka sementara baru berisi 13 poin dengan tujuan membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan aksi militer. Namun demikian, bentrokan terbaru masih terjadi, termasuk serangan Iran terhadap kapal perusak Angkatan Laut AS dan serangan AS ke target militer di Iran.
“Pasar masih melihat rapuhnya gencatan senjata meski Presiden AS Donald Trump terus mendorong tercapainya kesepakatan,” sebut Ashmore.
Selain itu, menurut Ashmore, pasar masih memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi, tercermin dari imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi, terutama tenor panjang. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun bertahan di sekitar 3,9%, sementara tenor 10 tahun sekitar 4,4%.
“Tingginya yield juga dipengaruhi sikap hati-hati sejumlah pejabat The Fed yang cenderung mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun. Harga minyak Brent juga masih tinggi di sekitar USD100 per barel dan sangat sensitif terhadap perkembangan berita utama,” imbuh Ashmore.
Di Indonesia, Ashmore menggarisbawahi bahwa rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah masih mengalami tekanan, meski data ekonomi yang lebih kuat dan intervensi pemerintah membantu meredam dampaknya. Rupiah sempat menyentuh rekor terlemah di 17.443 per dolar AS sebelum menguat tipis ke 17.373 saat penutupan pasar.
“Pelemahan ini sebagian dipengaruhi faktor musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan musim pembagian dividen yang meningkatkan permintaan dolar AS,” ungkap Ashmore.
Ashmore menilai, lelang SRBI terbaru masih menawarkan imbal hasil tinggi untuk menarik arus dana asing, meski yield turun menjadi 6,4%. Sejalan dengan sentimen risiko global, imbal hasil obligasi Indonesia tetap tinggi, namun mulai turun pekan ini.
Yield obligasi pemerintah tenor 2 tahun turun 15 basis poin menjadi 6,28%, sementara tenor 10 tahun turun 34 basis poin menjadi 6,60% dari puncak sebelumnya.
Ashmore berpendapat, secara keseluruhan, kondisi pasar masih volatil dan minat pada aset berisiko sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah.
Namun, di tengah ketidakpastian ini masih terdapat kelas aset yang dapat dimanfaatkan investor untuk bertahan.
“Kami menilai investor sebaiknya melakukan diversifikasi antar kelas aset, wilayah geografis, dan mata uang, dengan fokus pada strategi aktif di aset berkualitas tinggi dan likuid,” tulis Ashmore.
Ashmore merekomendasikan eksposur pada strategi Global EM Equity Sharia dan Sukuk yang dinilai dapat menambah nilai bagi portofolio investor.
“Dalam kondisi pasar saat ini, langkah tersebut diperkirakan akan secara bertahap mengurangi premi tenor (term premium).
(Ashmore)
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal