MarketNews.id-Pasar modal Indonesia diyakini masih memiliki status sebagai emerging market dan masih akan tertekan lantaran masih berlanjutnya dominasi konglomerasi.
Sejumlah emiten Berpotensi dikeluarkan pada rebalancing Mei akibat free float rendah dan kepemilikan yang berkonsentrasi.
Meskipun Reformasi pasar modal Indonesia dinilai mampu mencegah downgrade oleh MSCI Inc, namun belum sanggup untuk mencegah penurunan bobot indeks yang bakal dikeluarkan oleh MSCI
Menurut Citigroup Inc. dan Alphagate Capital, langkah-langkah otoritas pasar modal – termasuk menyoroti beberapa perusahaan terbesar dengan kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi – kemungkinan akan menyebabkan sebagian saham dikeluarkan dari indeks oleh penyusun indeks pada Mei nanti karena kurangnya saham yang tersedia untuk publik.
Pada Januari lalu MSCI telah memperingatkan status pasar modal Indonesia bisa diturunkan ke frontier market – dari emerging market – jika tidak memperbaiki struktur kepemilikan saham dan potensi kolusi dalam perdagangan.
“Kami tidak melihat Indonesia akan diturunkan ke frontier market dan akan tetap berada di kategori emerging market ,” kata Henry Wibowo, mantan analis JPMorgan & Chase Co. yang mendirikan Alphagate Capital di Jakarta.
“Namun demikian, kami memperkirakan akan terjadi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI EM, seiring kemungkinan ada beberapa saham yang dikeluarkan dalam rebalancing Mei, terutama yang masuk daftar konsentrasi tinggi,” imbuhnya seperti dikutip Bloomberg, Selasa (7/4).
Sejauh ini MSCI belum memberikan tanggapan atas langkah-langkah reformasi yang telah dilakukan otoritas pasar modal Indonesia.
Kekhawatiran atas potensi downgrade MSCI telah membuat Indeks Harga Saham Gabungan turun sekitar 20% tahun ini, meskipun regulator telah meningkatkan persyaratan free float dan meminta keterbukaan lebih besar terkait kepemilikan saham.
Tantangan utama berasal dari dominasi konglomerasi keluarga yang mengendalikan banyak entitas publik dan privat, mulai dari sektor tambang hingga petrokimia, dengan kontrol yang biasanya dijaga melalui kerabat dan pihak terafiliasi.
“Kami menilai reformasi ini positif dan baik untuk prospek jangka menengah hingga panjang,” tulis Ferry Wong, analis Citigroup di Jakarta. “Namun, peninjauan indeks semi-tahunan MSCI pada Mei 2026 masih berpotensi memicu pengeluaran selektif atau penurunan bobot saham yang memiliki konsentrasi tinggi dan free float yang rendah.”
Seperti diketahui Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pekan lalu mengumumkan sembilan perusahaan dengan konsentrasi kepemilikan saham di atas 95%, dan menjanjikan akan rutin mengungkapkan data tersebut.
Di antara sembilan perusahaan itu adalah PT Barito Renewables Energy (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), yang sahamnya sempat anjlok hingga 14% pada sesi perdagangan Senin kemarin.
Perusahaan infrastruktur telekomunikasi PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), yang dikendalikan oleh pewaris Grup Djarum Martin Hartono dan Victor Hartono, Senin kemarin, bahkan mengumumkan rencana untuk delisting karena kesulitan memenuhi ambang batas free float baru.
Sejauh ini, sebanyak 20 perusahaan terbesar yang terkait konlomerasi di IHSG diperkirakan menyumbang hampir 43% dari total bobot indeks, termasuk PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bayan Resources (BYAN).
Menurut data PT Trimegah Sekuritas Indonesia per Juni 2025. Perusahaan-perusahaan tersebut juga menyumbang sekitar setengah dari MSCI Indonesia Index.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal