Home / Otoritas / Bank Indonesia / Pefindo : Penerbitan Surat Utang Naik 56,88 Persen Jadi Rp198,81 Triliun Di November 2025

Pefindo : Penerbitan Surat Utang Naik 56,88 Persen Jadi Rp198,81 Triliun Di November 2025

MarketNews.id-Penerbitan Obligasi Dan Sukuk dari Korporasi selama Januari-November 2025 melonjak hingga 56,88 persen jadi Rp198,81Triliun. Keadaan ini mencerminkan optimisme dunia usaha dan kondisi pasar keuangan yang lebih kondusif.

Sementara itu, struktur pembiayaan semakin sehat, itu tercermin dari rasio penerbitan terhadap jatuh tempo mencapai 137 persen, menandakan Surat utang baru tidak melulu untuk menutup utang lama atau refinancing.

Pasar surat utang dinilai semakin matang dan dipercaya, ditandai oleh peningkatan outstanding jadi Rp539, 7 triliun dan jumlah emiten Surat utang naik menjadi lebih dari 184 perusahaan.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai, penerbitan obligasi dan sukuk korporasi menunjukkan pertumbuhan yang kuat di periode Januari-November 2025, sekaligus mencerminkan peningkatan optimisme dunia usaha dan kondisi pasar keuangan yang semakin kondusif.

Menurut Direktur Utama Pefindo, Irmawati Amran, total penerbitan obligasi dan sukuk korporasi nasional pada Januari-November 2025 mencapai Rp198,81 triliun atau melonjak 56,88 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2024 yang sebesar Rp126,73 triliun.

“Penerbitan surat utang korporasi selama sebelas bulan pertama di tahun 2025 melonjak signifikan, seiring dengan lingkungan suku bunga yang lebih rendah,” kata Irmawati dalam acara Media Forum Pefindo yang digelar secara online, Selasa 16 Desember 2025.

Dia mengatakan, lonjakan penerbitan obligasi dan sukuk korporasi tersebut bukan hanya mencerminkan kebutuhan pendanaan korporasi yang meningkat, namun juga kepercayaan para pelaku usaha terhadap stabilitas ekonomi dan prospek pertumbuhan ke depan.

Irmawati menilai, suku bunga yang relatif lebih rendah menjadi salah satu faktor utama bagi perusahaan untuk kembali agresif memanfaatkan instrumen pasar obligasi dan sukuk sebagai sumber pendanaan jangka menengah maupun panjang.

Bila bercermin pada struktur pasar, penerbitan surat utang korporasi di 2025 juga menunjukkan kemampuan korporasi dalam melakukan pembiayaan yang lebih sehat.

Rasio perbandingan antara penerbitan terhadap surat utang yang jatuh tempo pada Januari-November 2025 tercatat sebesar 137 persen atau meningkat dibandingkan 96 persen pada 11M24.

Irmawati menyampaikan, kondisi tersebut menandakan bahwa penerbitan surat utang yang baru tidak hanya digunakan untuk pembiayaan kembali (refinancing), tetapi juga untuk mendukung ekspansi usaha.

Secara sektoral, kontribusi terbesar penerbitan surat utang masih berasal dari sektor multifinance dan perbankan, lalu diikuti oleh industri bubur kertas, pertambangan, pembiayaan non-multifinance dan lembaga keuangan khusus.

Menurut Irmawati, dominasi sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pembiayaan masih ditopang oleh sektor keuangan dan industri berbasis komoditas, seiring dengan kebutuhan modal kerja dan belanja modal (capex) yang tetap tinggi.

Sementara itu dari sisi pasar, outstanding obligasi dan sukuk korporasi juga terus meningkat.

Hingga November 2025, total outstanding tercatat Rp539,7 triliun atau meningkat dibandingkan per akhir 2024 yang sebesar Rp476,9 triliun. Sejalan dengan itu, jumlah emiten penerbit surat utang ikut bertambah, dari 176 perusahaan pada akhir 2024 menjadi sekitar 184 perusahaan per akhir November 2025.

Irmawati mengatakan, tren positif tersebut memberikan sinyal kuat bahwa pasar obligasi dan sukuk korporasi Indonesia semakin matang dan dipercaya sebagai sumber pembiayaan alternatif.

M Rizki A

Check Also

Pertamina Perkuat Ekosistem Mobilitas Berkelanjutan Di Sektor Darat, Laut Dan Udara

MarketNews.id– Sebagai bentuk komitmen mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060, PT Pertamina …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *