Marketnews.id PT Ashmore Asset Management mencatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan dana di pasar modal dalam dan luar negeri, antara lain;
Update Covid; Pemberian vaksin Covid hingg akhir pekan ini telah mencapa 10,5 miliar dosis yang mewakili 4,28 miliar orang yang telah divaksinasi penuh atau 54,4% populasi global. Indonesia telah memberikan 335 juta dosis untuk 137 juta orng divaksinasi lengkap atau 49,8% dari total populasi.
Data penjualan ritel Januari AS melonjak 3,8% (mom), rebound dari penurunan 2,5% yang direvisi naik di Desember, dan jauh lebih baik dari ekspektasi kenaikan 2%. Ini adalah peningkatan terbesar penjualan ritel dalam sepuluh bulan, konsumen terus berbelanja meskipun ada lonjakan kasus COVID-19 dan inflasi yang memanas.
Tingkat inflasi tahunan di Inggris naik tipis menjadi 5,5% pada Januari 2022, tertinggi sejak Maret 1992, naik dari 5,4% pada Desember dan di atas ekspektasi sebesar 5,4%.
Tingkat inflasi tahunan China turun menjadi 0,9% pada Januari 2022, turun dari 1,5% pada bulan sebelumnya, dan lebih rendah dari ekspektasi 1%, terendah sejak September lalu.
Pengangguran yang disesuaikan secara musiman Australia mencapai 4,2% pada Januari 2022, tidak berubah dari bulan sebelumnya, sejalan dengan perkiraan pasar, terendah sejak Agustus 2008.
Sementara surplus perdagangan Indonesia menyempit tajam menjadi US 0,93 miliar pada Januari 2022, Lebih rendah dari Januari 2021 sebesar USD1,96 miliar, namun lebih baik dibanding konsensus sebesar USD 0,19 miliar, surplus perdagangan terkecil sejak Maret 2020.
Dengan mencermati perkembangan selama sepekan terakhir, brikut pandangan Ashmore dalam Weekly Commentary , Jumat, 18 Pebruari 2022.
Dalam sebulan terakhir ini, risiko eskalasi konflik antara Rusia-Ukraina telah menjadi salah satu sorotan utama di pasar. Upaya diplomatik terus berlanjut, namun situasi tetap cair sementara UE telah menyiapkan sanksi jika Rusia menyerang negara tetangga.
Investor merespons dengan cepat dan harga minyak secara konsisten berada sekitar USD94/bbl, level tertinggi sejak 2014. Namun hal ini diperkirakan tidak akan memicu puncak inflasi lagi karena potensi respons di sisi penawaran.
Tetapi bagaimana jika terjadi eskalasi – apa yang diekspektasikan?
Menurut Ashmore, jika ketidakpastian dan volatilitas meningkat dalam beberapa hari mendatang, biasanya kondisi ini akan mendorong aliran modal kembali ke tempat yang aman teruama ke US Treasury.
“Penurunan imbal hasil dapat menggagalkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed yang cepat, untuk memastikan bahwa kurangnya pertumbuhan dapat dikompensasi, dan pengeluaran fiskal dapat dibiayai dengan tidak terlalu mahal,” tulis Ashmore.
Pasar telah mulai mencoba memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50bp pada bulan Maret, namun turun menjadi 30% dari 90% pada pekan lalu.
“Kondisi ini mungkin menjadi sinyal bagi Bank Sentral emerging market untuk menunda kebijakan pengetatan,” ungkap Ashmore.
Hal lain yang diespektasikan adalah harga minyak akan tetap tinggi dan kemungkinan mempengaruhi harga komoditas lainnya. “Kedua perubahan tersebut berdampak netral terhadap ekonomi makro Indonesia.”
Di sisi lain, jika kita menghadapi de-eskalasi dari risiko geopolitik maka skenario awal untuk kenaikan suku bunga tahun 2022, pemulihan pertumbuhan global akan tetap berlaku. Ashmore menilai, ekonomi makro Indonesia telah menunjukkan ketahanan untuk menghadapi skenario tersebut.
“Meskipun ada ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, Indonesia telah memperlihatkan arus masuk yang cukup baik dari investor asing dengan nilai total Rp32,5 triliun dalam 6 bulan terakhir,” ungkap Ashmore.
Sektor utama yang menerima aliran dana asing sebagian besar adalah sektor berkapitalisasi besar, sektor berkelanjutan dan sektor teknologi tematik.
Ashmore berpendapat, kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor asing terus memperhatikan value meskipun ada hambatan, serta penerima manfaat dari kenaikan harga komoditas.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal