MarketNews.id-Buat Amerika, Hari Kamis 4 April 2025 bisa jadi hari terburuk sejak 2020 untuk tiga Indeks utama Amerika. Indeks Dow Jones ambles 4 persen sementara S&P 500 anjlok 4,8 persen. Sedangkan Nasdaq Composite terpuruk nyaris 6 persen.
Bursa Eropa dan Asia juga ikut terjungkal dengan rentang penurunan bervariasi. Bursa Eropa turun sekitar 0,6 persen hingga 1,3 persen. Sedangkan Bursa Asia ikut turun bervariasi terbesar di Jepang. Australia. Sementara pasar modal Indonesia masih dalam suasana libur nasional Lebaran.
Bursa saham Eropa hari ini, Jumat 4 April 2025, dibuka dengan melanjutkan penurunan sesi perdagangan sebelumnya. Investor masih terpukul oleh besarnya penetapan tarif AS terhadap produk impor dari kawasan tersebut.
Seperti diketahui, indeks regional STOXX 600 merosot 1,1% pada pembukaan. Sektor perbankan memimpin penurunan dengan berlanjut ambles 4%, setelah terjungkal 5,53% pada Kamis kemarin.
Pada pukul 8:28 pagi waktu London, STOXX 600 melorot 0,9%.
STOXX 600 terperosok 2,57% pada sesi perdagangan kemarin, ketika dunia mencerna bea masuk tinggi yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump pada lebih dari 180 negara.
Aksi Trump memicu kekhawatiran bahwa perang dagang global akan mencapai titik didih.
Di antara sektor yang paling terpukul pada perdagangan Kamis, sektor ritel turun terdalam. Indeks Stoxx Luxury 10 ambles 5,2% ke sesi terburuknya selama hampir empat tahun.
Saham perusahaan pelayaran raksasa Maersk dan Hapag-Lloyd, yang menjadi indikator kesehatan ekonomi global, keduanya terpenggal lebih dari 9%.
Indeks saham acuan CAC 40 Prancis merosot 0,8%, FTSE 100 Inggris melorot 0,7%, DAX Jerman turun 0,6%, Ibex 35 Spanyol drop 1,1%, FTSE MIB Italia anjlok 1,3% dan SMI Swiss menyusut 0,7%.
Seperti diketahui, Trump memberlakukan tarif secara besar-besaran, khususnya lebih ketat terhadap negara-negara berkembang di Asia yang bergantung pada ekspor produksi pakaian dan barang-barang konsumsi lainnya ke seluruh dunia.
Tarif sebesar 25% yang diberlakukan Trump terhadap kendaraan impor ke AS juga mulai berlaku minggu ini, mengikuti tarif yang sebelumnya telah dikenakannya terhadap baja dan aluminium.
Euro mengalami kenaikan yang kuat terhadap dolar AS setelah berita tersebut dan diperdagangkan pada level tertinggi dalam enam bulan terakhir di USD1,1067 pada Jumat pagi di London.
Tarif baru Trump membangun tembok perdagangan senilai USD1 triliun di seputar ekonomi AS.
Para ekonom masih berusaha keras untuk menilai skala dampaknya, yang akan bergantung pada berapa lama tarif tersebut akan tetap berlaku dalam bentuk yang ada, dan bagaimana negara lain membalasnya.
Uni Eropa telah menyatakan akan menyiapkan tindakan balasan terhadap AS jika gagal menegosiasikan tarif yang dikenakan Trump.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak perusahaan-perusahaan Prancis untuk menghentikan investasi yang direncanakan di AS. Penjabat menteri ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan Trump akan “menyerah di bawah tekanan” jika Eropa bersatu dalam menanggapinya.
UE dikenai tarif sebesar 20%, Inggris sebesar 10%, Norwegia sebesar 15%, dan Swiss sebesar 31%.
Sementara Bursa saham Asia, menutup sesi perdagangan pekan ini di zona merah, dipimpin kejatuhan bursa saham Jepang, mengikuti penurunan tajam di Wall Street.
Indeks S&P/ASX 200 Australia terperosok 2,44% ditutup di level 7.667,8, meluncur ke area koreksi setelah rontok 11% dari level tertinggi terakhir pada Februari lalu.
Nikkei 225 Jepang ambles 2,75% berakhir di level 33.780,58, terpenggal 20% dari puncak tertinggi baru pada Juli lalu, sementara Topix terjungkal 3,37% ditutup pada 2.482,06.
Kospi Korea Selatan tergelincir 0,86% berakhir di 2.465,42, namun indeks berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 0,57% hingga ditutup pada 687,39, setelah Mahkamah Konstitusi negara itu menguatkan pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol, yang digulingkan dari jabatannya.
Beberapa ekonom global menilai, dampak pasar bahkan bisa lebih parah di AS, di mana banyak ekonom mulai memperkirakan potensi resesi sebagai akibat dari pemberlakukan tarif baru.